Ketegangan AS-Iran Memanas, Teheran Aktifkan Pertahanan Udara

M. Habib Saifullah | Jum'at, 01/05/2026 19:02 WIB


Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah sistem pertahanan udara Teheran aktif untuk menghalau serangan pesawat kecil dan pesawat nirawak (drone) Ilustrasi - terlihat Drone Shahid Iran sedang terbang di udara (Foto: Bloomberg)

JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah sistem pertahanan udara Teheran aktif untuk menghalau serangan pesawat kecil dan pesawat nirawak (drone) pada Kamis (30/4) malam.

Di saat yang sama, Gedung Putih mengisyaratkan tidak akan tunduk pada tenggat waktu Kongres terkait perang dengan Iran.

Kantor berita Tasnim dan Fars melaporkan bahwa sistem pertahanan udara yang terdengar di beberapa bagian ibu kota Iran tersebut diaktifkan untuk "melawan pesawat kecil dan drone pengintai" selama sekitar 20 menit. Namun, otoritas setempat menyatakan situasi kini telah kembali "normal."

Di Washington, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah menghadapi tenggat waktu tengah malam untuk mendapatkan otorisasi Kongres terkait perang melawan Iran. Hal ini memicu ketegangan antara Gedung Putih dan Kongres.

Baca juga :
44 Pelaut Iran Dilaporkan Tewas Selama Perang Melawan AS-Israel

Pihak administrasi Trump berpendapat bahwa batas waktu 60 hari untuk mencari otorisasi secara efektif telah terhenti sejak pengumuman gencatan senjata bulan lalu.

Baca juga :
Belum Ada Tanda Berakhirnya Perang Iran, Harga Minyak Kembali Naik

"Untuk tujuan Resolusi Kekuatan Perang, permusuhan yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari telah berakhir," ujar seorang pejabat senior pemerintah kepada AFP, Kamis malam. Ia mencatat bahwa tidak ada lagi baku tembak antara Amerika Serikat dan Iran sejak gencatan senjata pada 7 April.

Sebelumnya pada Kamis, pemimpin tertinggi Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menderita kekalahan yang memalukan.

Baca juga :
Layanan Penerbangan Komersial di Iran Kembali Dibuka Secara Bertahap

Pernyataan ini sekaligus menolak peringatan Trump terkait blokade angkatan laut AS yang dapat diberlakukan selama berbulan-bulan ke depan.

Kondisi ini sempat membuat harga minyak menyentuh level tertinggi dalam empat tahun, sebelum akhirnya kembali turun sedikit. Tak lama kemudian, Mojtaba Khamenei mengeluarkan pernyataan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah, yang menyatakan bahwa Iran kini memegang kendali atas krisis tersebut.

"Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para penindas dunia di wilayah ini, serta kekalahan memalukan Amerika Serikat dalam rencana-rencananya, babak baru terbuka bagi Teluk Arab dan Selat Hormuz," ujarnya, seraya memuji kendali Iran atas pelayaran di selat tersebut.

Khamenei, yang terluka dalam serangan awal AS-Israel yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, belum terlihat di depan umum sejak ditunjuk sebagai penerus Pemimpin Tertinggi pada Maret lalu.

Amerika Serikat telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak dua minggu lalu. Sementara itu, Republik Islam Iran tetap mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz yang strategis sejak dimulainya perang Timur Tengah pada akhir Februari.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan kepada AFP bahwa Washington kini tengah berupaya membentuk koalisi internasional yang melibatkan negara sekutu dan perusahaan pelayaran guna mengoordinasikan jalur aman melalui Hormuz, sembari tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang melayani Iran.

Di sisi lain, Presiden Trump mengancam akan menarik pasukan AS dari Italia dan Spanyol. Ancaman ini merupakan perluasan dari peringatan serupa yang sebelumnya ditujukan kepada Jerman, setelah Trump mengecam sekutu NATO karena dinilai gagal mendukung operasi AS-Israel terhadap Iran, termasuk di wilayah Selat Hormuz.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Iran AS Pertahanan Udara Perang Iran