44 Pelaut Iran Dilaporkan Tewas Selama Perang Melawan AS-Israel

M. Habib Saifullah | Jum'at, 01/05/2026 20:01 WIB


Setidaknya 44 pelaut Iran dilaporkan tewas dan 29 lainnya luka-luka sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Selat Hormuz yang kini diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel (Foto: AFP)

JAKARTA - Setidaknya 44 pelaut Iran dilaporkan tewas dan 29 lainnya luka-luka sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Data tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Serikat Pelaut Dagang Iran (Iranian Merchant Mariners Syndicate/IMMS), Saman Rezaei, Jumat (1/5).

Melansir Aljazeera, Rezaei merinci bahwa korban tewas terdiri dari 22 pelaut sipil, 16 nelayan, dan enam pekerja dok yang gugur dalam rentang waktu 28 Februari hingga 1 April.

Daftar tersebut disusun berdasarkan data dari Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran serta anggota serikat, namun tidak mencakup anggota angkatan laut Iran yang tewas dalam kontak senjata.

Baca juga :
Belum Ada Tanda Berakhirnya Perang Iran, Harga Minyak Kembali Naik

Temuan ini telah diajukan kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB melalui sejumlah surat pengaduan selama Maret dan April.

Baca juga :
Ketegangan AS-Iran Memanas, Teheran Aktifkan Pertahanan Udara

Dalam laporan tersebut, Rezaei menyebut jatuhnya korban jiwa diakibatkan oleh serangan militer AS dan Israel terhadap pelabuhan serta armada komersial Iran di perairan teritorial dan kawasan Teluk. Selain korban tewas dan luka, sembilan orang lainnya dinyatakan hilang.

“Krisis kemanusiaan ini berdampak pada seluruh pelaut di Teluk Persia, termasuk awak kapal berbendera Iran. Mereka menghadapi tekanan yang sangat berat,” ujar Rezaei kepada Al Jazeera.

Baca juga :
Layanan Penerbangan Komersial di Iran Kembali Dibuka Secara Bertahap

Menurutnya, para pelaut tidak hanya mengkhawatirkan menipisnya pasokan logistik, tetapi juga mengalami gangguan psikologis yang parah setelah terjebak selama 60 hari di zona perang yang membentang dari Teluk hingga Samudra Hindia.

Berdasarkan data dari pemantau konflik independen Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), pasukan AS dan Israel telah melancarkan lebih dari 3.000 serangan udara ke seluruh wilayah Iran sejak 28 Februari. Sebagai balasan, Iran tercatat melakukan hampir 1.600 serangan di berbagai titik di Timur Tengah.

Meski gencatan senjata antara AS dan Iran telah berlaku sejak 8 April, ketegangan di sektor maritim tetap tinggi. Pada 13 April, Amerika Serikat meluncurkan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran guna memutus ekspor minyak dan menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Selat tersebut, yang biasanya menjadi jalur bagi seperlima ekspor energi dunia, secara de facto tertutup sejak awal perang. Penutupan ini menyebabkan sekitar 20.000 pelaut terdampar di sekitar selat selama sedikitnya dua bulan.

Di tengah situasi gencatan senjata, militer Iran dilaporkan masih melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal yang mencoba keluar dari Selat Hormuz. Pada 22 April, Iran menyita dua kapal kargo berbendera Panama dan Liberia.

Sebaliknya, pada 19 April, pasukan AS menyita kapal MV Touska yang berbendera Iran dan menahan seluruh awaknya di Teluk Oman. Komando Pusat AS (CENTCOM) menuduh kapal tersebut melanggar blokade laut. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kapal Touska sebelumnya telah masuk dalam daftar sanksi karena riwayat aktivitas ilegal.

Terkait penahanan awak MV Touska, Rezaei menyebut terdapat 23 kru, dua kadet, dua wanita, dan satu anak-anak di dalamnya. Enam orang, termasuk dua wanita dan satu anak, dilaporkan telah dibebaskan oleh pasukan AS dan kembali ke Iran minggu ini.

Di sisi lain, data IMO mencatat bahwa serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk atau mereka yang mencoba melintasi Selat Hormuz juga telah menewaskan sedikitnya 10 pelaut sejak awal perang.

Sekretaris Jenderal Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF), Stephen Cotton, mengingatkan bahwa para pelaut yang terjebak di kedua belah pihak adalah warga sipil. "Intinya, mereka adalah pelaut. Anda bisa mengatakan mereka di bawah bendera Iran dan ada sanksi yang berlaku, tetapi tidak semua orang setuju dengan sanksi tersebut," tegasnya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Pelaut Iran Perang Iran Iran Vs Israel AS