• Gaya Hidup

Mengapa Hari Psoriasis Sedunia yang Diperingati Setiap 29 Oktober?

Vaza Diva | Kamis, 29/10/2026 15:30 WIB

Mengapa Hari Psoriasis Sedunia yang Diperingati Setiap 29 Oktober? Ilustrasi - Hari Psoriasis Sedunia setiap 29 Oktober (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Di tengah berbagai agenda kesehatan global yang berfokus pada penyakit-penyakit organ dalam, tanggal 29 Oktober juga didedikasikan secara khusus untuk memperingati Hari Psoriasis Sedunia (World Psoriasis Day).

Peringatan tahunan ini diinisiasi oleh International Federation of Psoriasis Associations (IFPA) bersama jaringan komunitas global sebagai bentuk perlawanan terhadap misinformasi medis dan stigma sosial yang kerap membayangi para penyintas penyakit kulit kronis tersebut.

Psoriasis sendiri bukanlah sekadar masalah kulit biasa. Penyakit ini merupakan gangguan autoimun kronis yang membuat sistem kekebalan tubuh bekerja terlalu cepat, sehingga memicu percepatan regenerasi sel-sel kulit.

Akibatnya, sel-sel tersebut menumpuk di permukaan kulit dan membentuk lapisan plak tebal berwarna merah yang ditutupi sisik perak, disertai rasa gatal, kering, hingga sensasi perih yang luar biasa. Tidak sedikit pula penderita psoriasis yang mengalami komplikasi berupa radang sendi atau yang dikenal sebagai artritis psoriatik.

Di balik gejala fisik yang tampak di permukaan, tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh para pasien psoriasis justru datang dari lingkungan sosial.

Kurangnya pemahaman masyarakat luas sering kali memicu pandangan keliru bahwa psoriasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh buruknya kebersihan diri.

Anggapan yang salah ini berdampak buruk secara psikologis, mulai dari rasa malu, rendah diri, isolasi sosial, hingga diskriminasi di lingkungan kerja maupun ruang publik.

Oleh karena itu, Hari Psoriasis Sedunia hadir sebagai momentum penting untuk mengedukasi publik bahwa psoriasis mutlak bukan penyakit menular.

Melalui berbagai kampanye global yang diusung setiap tahunnya, IFPA dan organisasi kesehatan di berbagai belahan dunia berupaya mengajak masyarakat untuk melihat lebih jauh dari kondisi fisik pasien—sesuai dengan semangat kampanye inklusivitas seperti Look Beyond My Skin.

Peringatan ini juga dimanfaatkan oleh para tenaga medis dan komunitas pasien untuk mendorong akses pengobatan yang lebih merata, meningkatkan dukungan psikologis, serta memperjuangkan hak-hak para penyintas agar mendapatkan kualitas hidup yang layak tanpa harus menghadapi diskriminasi.

Dengan edukasi yang konsisten setiap tanggal 29 Oktober, dunia diharapkan mampu membangun lingkungan yang lebih ramah, empatik, dan suportif bagi jutaan orang yang hidup dengan psoriasis di seluruh dunia.