Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon saat memberikan sambutan di forum diskusi Generasi Indonesia Bertutur pada Jumat (4/9) di Jakarta (Foto: Vaza/Katakini)
JAKARTA - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengatakan bahwa Indonesia bukan sekadar negara-bangsa (nation-state), melainkan sebuah negara-peradaban (civilizational state) yang menjadi salah satu pusat awal peradaban manusia di dunia.
Ia menilai narasi kebudayaan Indonesia harus ditata ulang (reinventing Indonesian identity) untuk menantang sudut pandang sejawat global yang kerap berpusat pada Barat (Europe-centric).
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat menjadi pembicara kunci dalam Forum Generasi Indonesia Bertutur yang diselenggarakan oleh Tutur Media Digital di Jakarta, pada Jumat (4/9).
Fadli mengungkapkan, bukti arkeologis terbaru memperkuat fakta sejarah bahwa peradaban di Nusantara melintasi rentang waktu hingga jutaan tahun, melampaui usia negara modern yang merdeka 81 tahun lalu maupun masa kolonialisme yang disebutnya hanya interupsi pendek.
"Kita ini bukan sekadar nation-state, tapi civilizational state. Bukan sekadar negara-bangsa, tapi negara-peradaban. Kita ini adalah the cradle of civilization atau awal peradaban manusia," ujar Fadli Zon di hadapan peserta forum.
Ia mencontohkan penemuan seni cadas purba tertua di dunia yang terkonfirmasi berada di Kabupaten Muna. Penemuan yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional seperti Nature dan Science Magazine tersebut membuktikan tingginya tingkat peradaban nenek moyang bangsa Indonesia sejak puluhan ribu tahun lalu.
"Lukisan purba tertua di dunia ada di Indonesia, yaitu di Kabupaten Muna. Baru diumumkan kemarin tanggal 22 Januari tahun 2026, cave art atau rock painting. Itu umurnya 67.800 tahun. Ini pakai Uranium-series, jadi presisi. Nenek moyang kita 67.800 tahun sudah bisa menggambar seperti ini," tuturnya.
Atas dasar bukti-bukti ilmiah dan geografis tersebut, Fadli melayangkan tanggapan kritis terhadap teori-teori sejarah lama yang menempatkan Eropa atau wilayah lain sebagai pusat evolusi peradaban manusia, seperti teori Out of Africa.
"Teori itu menurut saya perlu kita tantang. Karena Barat yang menulis, jadi selalu Europe-centric. Dia menyebut Middle East, dia menyebut Indonesia dan Timur itu Far East. Ada waktunya mungkin kita harus menyebut Eropa itu sebagai Far West, dan kita sentralnya," tegasnya.
Selain mengenai akar peradaban, Fadli Zon menyoroti potensi mega cultural diversity Indonesia yang melimpah, mulai dari keberadaan 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, hingga ribuan warisan budaya kebendaan (tangible) dan takbenda (intangible).
Guna mengoptimalkan potensi besar ini, Kementerian Kebudayaan mempercepat penetapan cagar budaya nasional yang jumlahnya melonjak signifikan dalam dua tahun terakhir, dari kurang dari 200 menjadi 1.485 cagar budaya. Langkah ini dilakukan seiring revitalisasi museum dan kraton untuk mendorong ekonomi budaya sirkular yang berkelanjutan.
"Harus dilihat bahwa budaya ini bukan cost center, tapi budaya itu adalah investment, investasi. Karena budaya juga adalah satu soft power kita," ucap Fadli.
Fadli menambahkan bahwa pemanfaatan aset budaya secara profesional, seperti di Museum Nasional yang kini telah direpatriasi berbagai artefaknya dari luar negeri, dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru yang tak lekang oleh waktu.
"Batu bara, nikel, bauksit, timah, semuanya akan habis. Tapi budaya tidak akan ada habis-habisnya selama manusianya itu ada. Kita harus menjadikan budaya ini adalah satu national asset kita, cultural capital kita yang sangat penting," katanya.