Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat memberikan keynote speaker di forum diskusi Generasi Indonesia Bertutur (Foto: Vaza/Katakini)
JAKARTA - Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat memperingatkan bahaya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan banjir informasi digital yang berpotensi merenggut dimensi kemanusiaan serta merusak kualitas ruang publik.
Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam Forum Generasi Indonesia Bertutur yang digelar oleh Tutur Media Digital di Jakarta, pada Jumat (4/9).
Menurut Komarudin, tradisi komunikasi dan bertutur secara personal (conversation) merupakan fondasi awal terbentuknya komunitas, identitas, hingga sistem demokrasi.
Namun, keberadaan AI sebagai agensi tanpa emosi berisiko mengubah interaksi sosial menjadi sekadar masyarakat digital (digital society) yang hampa.
"AI itu adalah agent without feeling, tanpa hati. Oleh karena itu, komunitas yang terbentuk itu bukan komunitas. Itu society, web society, digital society, tapi tanpa sentuhan hati. Ketika hidup tanpa hati, maka bukan lagi manusia. Itu telah menjadi artificial human being," ujar Komarudin.
Fenomena derasnya arus informasi di media sosial yang sering kali tidak terkontrol dan menggeser nalar publik (public reason) menjadi emosi publik (public emotion).
Kondisi ini diperparah oleh maraknya hoaks, fenomena doxing, hingga praktik saling menjatuhkan di ruang digital.
Ia mengungkapkan, Dewan Pers menerima setidaknya 10 laporan pengaduan kasus setiap harinya terkait dampak negatif peredaran informasi di media sosial.
"Data World Press Freedom Index 2026 menempatkan Indonesia pada peringkat 129 dari 180 negara dengan skor 43,02. Posisi ini menunjukkan bahwa kebebasan pers Indonesia masih menghadapi tantangan serius dan cenderung terus turun indeksnya," ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pers kredibel tetap menjadi air bersih di tengah ruang digital yang penuh dengan lumpur manipulasi dan propaganda. Pers bertugas memastikan masyarakat tidak menjadi korban dari informasi yang tidak bermutu.
Menghadapi disrupsi digital ini, Komarudin mengimbau generasi muda agar tidak sekadar menjadi konsumen atau pembuat konten demi mengejar hal-hal yang viral. Ia mendorong anak muda untuk mengambil peran sebagai pemikir dan pencipta gagasan (idea creator).
"Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita hanya menjadi korban perubahan atau menjadi generasi yang mampu mengarahkan perubahan itu? Jangan puas menjadi content creator, jadilah idea creator. Jangan hanya mengejar perhatian, bangunlah pemikiran," katanya.
Lebih lanjut, ia meminta masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijak tanpa mengorbankan akal sehat dan nilai dasar kemanusiaan.
"Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal sehat, integritas, dan kemanusiaannya. Mari kita jadikan teknologi bukan sekadar alat untuk berbicara, tapi alat untuk berpikir," kata Komarudin.