• Info DPR

Novita Hardini: Pembiayaan UMKM Ekraf di Bali Masih Tertinggal

Aliyudin | Sabtu, 29/08/2026 15:18 WIB
Novita Hardini: Pembiayaan UMKM Ekraf di Bali Masih Tertinggal Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini (tengah). Foto: dpr

BALI – Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, menyampaikan, Bali memiliki pasar pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) yang sangat besar. Namun, pasar tersebut belum sepenuhnya terkoneksi dengan pelaku UMKM lokal melalui rantai pasok yang berkelanjutan, termasuk dalam hal akses pembiayaan dan permodalan.

Hal itu disampaikan Novita saat Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ke Nuanu Creative City Inc di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, Jumat (28/9/2026).

“Kita sebenarnya bukan kekurangan pasar. Pasarnya banyak sekali. Tetapi masih ada gap antara besarnya pasar pariwisata dengan seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar masuk ke UMKM lokal,” ujar Novita melalui keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Ia mencontohkan kondisi di Kabupaten Tabanan masih ada kesenjangan penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha di sektor tertentu.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat lebih jauh, apakah disebabkan kendala administratif, persyaratan pembiayaan, maupun belum sesuainya skema perbankan dengan karakteristik usaha kreatif.Politisi fraksi PDI Perjuangan itu menilai pelaku ekonomi kreatif memiliki karakter usaha yang berbeda dengan sektor konvensional.

Banyak pelaku mengandalkan karya, kreativitas, dan kekayaan intelektual, sementara aset fisik yang dapat dijadikan agunan belum tentu memadai.

“Kita perlu menemukan pola pembiayaan yang lebih tepat agar pelaku ekonomi kreatif mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam mengakses permodalan,” tegasnya.

Karena itu, Novita mendorong pemerintah dan sektor perbankan tidak berhenti pada program pembiayaan yang bersifat seremonial, tetapi membangun skema yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.

Menurutnya, penguatan ekosistem ekonomi kreatif harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari akses modal, perlindungan karya, integrasi dengan sektor pariwisata hingga kepastian pasar.

“Jangan sampai kita hanya memiliki ekosistem kreatif yang terlihat besar, tetapi pelaku UMKM lokal justru tidak menjadi bagian utama dari rantai pasoknya. Ini harus menjadi pekerjaan bersama,” pungkas Novita.