Hadapi Pemilu 2024, Masyarakat Penting Miliki Literasi Informasi Media Digital

Tim Cek Fakta | Selasa, 18/04/2023 21:49 WIB


Saking banyaknya informasi yang masuk dari bermacam media tersebut, kata Prabu, terkadang masyarakat tidak lagi mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang mengandung hoaks. Webinar Universitas Paramadina bertajuk Efektivitas Penggunaan Media Konvensional dan Media Baru sebagai Platform Menghadapi Pemilu 2024, Selasa (18/4/2023). Foto: tangkapan layar

JAKARTA – Menghadapi Pemilu 2024 mendatang yang hanya tinggal beberapa bulan lagi, masyarakat dinilai penting memiliki literasi atau pengetahuan dan pemahaman tentang informasi yang berasal dari berbagai media, khususnya media digital.

Hal ini mengemuka dalam webinar Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina bertajuk “Efektivitas Penggunaan Media Konvensional dan Media Baru sebagai Platform Menghadapi Pemilu 2024”, Selasa (18/4/2023).

Diskusi ini mengundang tiga narasumber yakni Kennedy Muslim (peneliti), Tsamara Amany Alatas (influencer), dan Aiman Witjaksono (praktisi media). Diskusi ini membahas terkait fenomena penggunaan media konvensional dan media baru jelang pesta demokrasi yang akan digelar pada tahun 2024 mendatang.

Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Dr. Rini Sudarmanti dalam pengantarnya menyampaikan bahwa kegiatan ini untuk menumbuhkan wawasan dan pengetahuan yang terkait dengan komunikasi politik. Apalagi di tahun mendatang, 2024, Indonesia akan menghadapi pesta politik besar, yakni pemilihan legislatif dan pemilihan presiden periode 2024-2029.

Baca juga :
Menko PM Ajak Puluhan Media Homeless Perkuat Kolaborasi untuk Pemberdayaan

“Bahkan setelahnya, akan digelar juga pemilihan kepala daerah. Sehingga diharapkan, kegiatan-kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan aura positif bagi siapa pun, sehingga menciptakan suasana pesta demokrasi yang kondusif, lancar, aman, dan nyaman,” kata Rini.

Baca juga :
Wanti-wanti Legislator PDIP soal Pelaksanaan Haji di Tengah Konflik Timteng

Senada dengan Rini, pengampu mata kuliah “Komunikasi Politik di Era Digital” Program Pasca Sarjana Universitas Paramadina Dr. Prabu Revolusi mengatakan, kegiatan webinar yang terkait dengan komunikasi politik semacam ini membangun ruang-ruang diskursus publik menjelang hajatan politik 2024 mendatang.

“Sebab tanpa kita sadari, melalu berbagai media, baik media konvensional maupun media baru seperti media sosial, kita telah menjadi penerima bahkan penikmat informasi politik, khususnya kandidasi capres dan cawapres,” kata Prabu.

Baca juga :
MPR Gandeng UII Dorong Penguatan Kajian Konstitusi dan Sosialisasi Empat Pilar

Saking banyaknya informasi yang masuk dari bermacam media tersebut, kata Prabu, terkadang masyarakat tidak lagi mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang mengandung hoaks.

“Ruang-ruang diskursus seperti inilah diharapkan bisa menjadi sarana pembelajaran bagi publik untuk menyikapi berbagai informasi yang masuk secara benar,” katanya.

Sedangkan Kennedy Muslim dalam media baru akan semakin berpengaruh terhadap perpolitikan di Indonesia. Hal ini terlihat dari data pengguna media baru yang kian bertambah dari masa ke masa. “Apalagi pengguna internet di Indonesia semakin meningkat,” ungkap Kenedy.

Meskipun demikian, kata Kennedy, media konvensional seperti berita televisi masih memiliki peran yang cukup signifikan dalam memengaruhi calon pemilih.

Tsamara Amany Alatas yang menyebutkan bahwa media baru sangat efektif untuk meningkatkan popularitas bagi tokoh dan partai politik. “Seringkali topik-topik yang dibahas di twitter, tiktok, dan media sosial lainnya kemudian diangkat jadi pemberitaan di media konvensional. Ini bukti bahwa media baru dapat memengaruhi media konvensional,” kata Tsamara.

Walau demikian, Tsamara berpendapat bahwa media baru tidak bisa jadi tulang punggung utama bagi tokoh dan partai politik. Hal tersebut lantaran pada beberapa tokoh dan partai politik tingkat elektabilitas yang diperoleh tidak berbanding lurus dengan popularitas di media sosial.

Sementara Aiman Witjaksono dalam diskusi tersebut menekankan pentingnya kedua media tersebut. “Tidak perlu kita memilih antara media baru atau media konvensional. Keduanya sama-sama perlu dimanfaatkan secara maksimal sesuai karakteristiknya masing-masing,” kata Aiman.

 Ia juga menekankan pentingnya literasi digital pada era masa kini guna menyaring informasi dari kedua media tersebut.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Paramadina Media baru Komunikasi Politik Pemilu 2024