Rusia Akan Terus Serang Meski Ukraina Tidak Masuk NATO

Akhyar Zein | Sabtu, 27/08/2022 20:15 WIB


Rusia Akan Terus Serang Meski Ukraina Tidak Masuk NATO Konvoi kendaraan lapis baja Rusia bergerak di sepanjang jalan raya di Krimea, Selasa, 18 Januari 2022 (foto: AP/ mprnews.org)

JAKARTA -  Moskow tidak akan menghentikan serangan militer di Ukraina meski Kiev secara resmi mengubur aspirasinya untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), kata sekutu utama Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat.

Dmitry Medvedev, mantan presiden yang sekarang merupakan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, juga mengatakan dalam sebuah wawancara televisi Prancis bahwa Rusia siap mengadakan pembicaraan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dengan beberapa syarat tertentu.

Bahkan sebelum memulai invasi pada Februari, Moskow menjelaskan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO tidak dapat diterima.

"Melepaskan partisipasinya di Aliansi Atlantik Utara sekarang penting, tapi itu sudah tidak cukup untuk bisa membangun perdamaian," kata Medvedev kepada televisi LCI melalui kutipan yang dilaporkan oleh kantor berita Rusia.

Baca juga :
Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi, Indonesia dan Malaysia Berisiko Paling Terdampak

Rusia, akan melanjutkan serangan sampai tujuannya tercapai. Putin mengatakan dia ingin "mendenazifikasi" Ukraina. Kiev dan Barat mengatakan hal itu merupakan dalih perang yang tidak berdasar demi melakukan penaklukan.

Baca juga :
Kemendikdasmen Selesaikan Revitalisasi 349 Sekolah di Sumbar

Rusia dan Ukraina telah menggelar beberapa kali perundingan setelah invasi, tetapi sejauh ini tidak ada kemajuan dan hanya ada sedikit prospek untuk melanjutkan kembali perundingan.

"Ini (perundingan) akan tergantung pada bagaimana beberapa peristiwa akan terungkap. Kami sudah siap sebelum bertemu (Zelenskyy)," kata Medvedev.

Baca juga :
Menko Pangan Zulhas SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa

Dalam komentarnya, dia juga mengatakan bahwa senjata Amerika Serikat (AS) yang sudah disuplai ke Ukraina - seperti peluncuran roket ganda HIMARS - belum memberikan ancaman yang berarti.

Tapi itu bisa berubah, kata dia, jika AS mengirimkan senjata yang dapat mengenai target pada jarak yang lebih jauh.

"Artinya ketika rudal semacam ini terbang sejauh 70 km, itu satu hal biasa," katanya.

"Tapi, ketika jaraknya 300-400 km, itu hal berbeda, itu akan menjadi ancaman langsung bagi wilayah Federasi Rusia," kata dia lebih lanjut.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Rusia Ukraina NATO Medvedev