Pertama Kali Dalam Satu Dekade, Harga Tembaga Capai $10.000

Akhyar Zein | Sabtu, 01/05/2021 10:39 WIB


Logam industri itu dianggap sebagai barometer untuk kesehatan umum ekonomi sehingga para analis pasar menjulukinya Dr. Copper. Seorang pekerja sedang memeriksa produksi kawat termbaga (foto: Reuters)

Katakini.com - Harga satu ton tembaga, Kamis (29/4),untuk pertama kalinya sejak Februari 2011 melampaui $10.000 berkat permintaan yang kuat di China dan melemahnya nilai dolar.

Logam industri itu dianggap sebagai barometer untuk kesehatan umum ekonomi sehingga para analis pasar menjulukinya Dr. Copper.

Harganya naik lebih dari 25 persen sejak awal tahun karena ekonomi global mulai pulih dari pandemi Covid-19.

Satu ton tembaga menyentuh $9.963 pada perdagangan siang di pasar London Metal Exchange setelah sempat turun dari penjualan tertingginya dan hampir melampaui penjualan tertingginya pada 15 Februari 2011 dengan$10.190 per ton.

Baca juga :
Klinik SMM Jadikan Momen Hari Kartini Perkuat Peran Perempuan dalam Layanan Kesehatan

Maret lalu, harga terendahnya $4.371 per ton ketika pandemi menjadi pukulan besar bagi perekonomian.

Baca juga :
Sambut Pengesahan UU PPRT, Rerie Singgung Nilai-nilai Perjuangan RA Kartini

Daniel Briesemann, analis Commerzbank, mengatakan bahwa harga yang lebih tinggi masih memungkinkan karena tembaga akan berperan penting dalam strategi jangka panjang berbagai negara untuk dekarbonisasi.

Anna Stablum, analis pada MAREX Spectron,mengatakan naiknya harga tembaga "didukung oleh melemahnya dolar".

Baca juga :
Mendes PDT Ajak BUMN dan Swasta Tingkatkan Kepedulian kepada Desa

Nilai dolar turun 2,5 persen terhadap sejumlahmata uang pada April, sementara pembeli yang menggunakan mata uang lain yang nilainya meningkat terhadap dolar, bersuka cita.

Neil Wilson dari Markets.com melihat kenaikan harga tembaga karena naiknya permintaan, terutama dari China, yang menyerap lebih dari setengah produksi dunia, dan juga masalah pasokan dari pemasok terbesar dunia, Chili.

China,tahun lalu saja, mengumumkan permintaannya akan tembaga diperkirakan naik 13, menurut kelompok studi tembaga internasional antar pemerintah (ICSG).

Tren itu tampaknya akan berlanjut setelah Beijing sebelumnya bulan ini mengumumkan rekor lonjakan 18,3 persen pada pertumbuhan ekonomi kuartal pertama.

Sementara itu, pasokan dari Chili terus terhambat oleh demonstrasi selama berhari-hari oleh pekerja di pelabuhan utama dan tambang-tambang tembaga di negara itu terkait kebijakan pensiun. (BBC)

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
tembaga China dolar