Pemerintah Harus Fokus Pencegahan Covid-19, Jangan Hanya Pemulihan Ekonomi

Eko Budhiarto | Sabtu, 20/06/2020 23:01 WIB


Ironisnya, dalam satu pekan terakhir pelaksanaan Normal Baru, kasus harian selalu berada di atas angka seribu kasus, kecuali pada (14/6/2020). Wakil Ketua MPR Syarief Hasan

INFO MPR - Wakil Ketua MPR Syarief Hasan menegaskan agar Pemerintah menyikapi kenaikan tajam positif dan total angka positif yang menyentuh 43.803 orang positif Covid-19.

“Pemerintah harus lebih fokus pada pemotongan rantai penyebaran Covid-19, bukan hanya pada perbaikan ekonomi” ungkapnya.

Data terakhir dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 pada Kamis (18/6/2020) menunjukkan peningkatan kasus harian tertinggi yang mencapai 1.331 kasus positif baru.

Ironisnya, dalam satu pekan terakhir pelaksanaan Normal Baru, kasus harian selalu berada di atas angka seribu kasus, kecuali pada (14/6/2020).

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Ia mempertanyakan langkah kebijakan pemerintah. Sebab, langkah Pemerintah belum menuai hasil sama sekali, bahkan sebaliknya semakin tinggi angka korban.

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

Kebijakan New Normal setelah dijalankan juga belum menunjukkan hasilnya contoh, masih banyak pengunjung pasar tradisional belum mengimplementasikan protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19. Masih banyak yang belum menyediakan tempat cuci tangan, kewajiban memakai masker, dan social distancing.

Disarankan pula agar Pemerintah melihat kondisi negara lain yang sudah melonggarkan lockdown dan menerapkan Normal Baru. Ternyata, terjadi gelombang kedua Covid-19 yang menghantam berbagai negara, termasuk Cina yang telah mengumumkan nol kasus sebelumnya.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Pada (16/6/2020), sebagian wilayah Cina kembali memberlakukan pembatasan ketat setelah terdapat penambahan kasus sebesar hanya 158 kasus baru. Begitu juga Korea Selatan kembali membatasi kegiatan ekonomi setelah terjadi penambahan kasus baru.

“Negara lain seperti Cina dan Korea Selatan yang hanya terjadi kasus baru dalam jumlah kecil melakukan pembatasan kembali. Lucunya, justru Indonesia yang jumlah kasus hariannya di atas seribu kasus malah melonggarkan pembatasan. Ditambah pelonggaran ini kurang diikuti dengan ketegasan implementasi Protokoler Kesehatan di masyarakat. Kebijakan ini paradox dan kontraproduktif” kata Syarief.

Dipertanyakan pula hasil dan ukuran kerja pemerintah setelah pemerintah mempersiapkan dan menggelontorkan dana besar

Melalui PERPPU No.1 Tahun 2020, Pemerintah dengan anggaran yang mencapai Rp. 695,2 triliun Tidak menujukkan hasil penurunan kasus positive Covid 19 maupun progress dalam penanganan di bidang kesehatan.

Malah, yang terjadi adalah anggaran besar tersebut membuat defisit APBN melebar menjadi 6,34% dari PDB. Dana ini ekuivalen dengan 24,73% Belanja APBN 2020. “dan ini menjadi beban Rakyat.

Dengan dana sebesar ini, seharusnya Pemerintah dapat menekan laju penyebaran Covid-19. Tetapi, nyatanya dana besar ini belum ada capaian yang menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menangani Pandemi Covid-19”, jelas Syarief Hasan.

Syarief Hasan juga meminta Pemerintah agar mobilitas masyarakat yang tinggi harus dicarikan solusi dan strategi oleh Pemerintah. Strategi yang tidak hanya berorientasi ekonomi tetapi harus orientasi security kesehatan.

Hal ini sangat penting untuk mengembalikan security kesehatan masyarakat. Sebab, insecurity yang muncul di masyarakat dapat menimbulkan ketakutan berlebihan, kecemasan, bahkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pemerintah yang belum mampu menekan peningkatan Covid-19.

"Dengan mengembalikan kepercayaan masyarakat tersebut masalah ini dapat teratasi bersama" saran Syarief Hasan.

Syarief Hasan menegaskan agar Pemerintah memberikan bukti kepada masyarakat bahwa Pandemi Covid-19 dapat diatasi. Apalagi, anggaran yang besar telah tersedia. Bukan sebaliknya, kasus harian meningkat dari hari ke hari dan masyarakat menjerit karena terganggu ekonominya.

“Pemerintah juga harus lebih tegas dalam implementasi Normal Baru dan penanganan Pandemi Covid-19. Sebab ukuran kinerja Pemerintah itu dilihat dari penurunan angka Covid-19 dan penormalan kembali kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Kini masyarakat menanyakan kebijakan baru yang lebih strategis dan relevan dari pemerintah dalam menanggapi peningkatan Covid-19, bukan mendiamkan terjadinya penambahan kasus dan membuat kebijakan kontraproduktif.Kedepan bila korban semakin bertambah berarti Pemerintah gagal mengatasi penyebaran Covid-19, artinya pemerintah tidak bisa atau belum bisa memberikan perlindungan kepada Rakyatnya sesuai amanah UUD 45." ujar Syarief Hasan.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info MPR Syarief Hasan Normal Baru