Mengganti Kebermanfaatan dengan Popularitas Semu, Fenomena Era Viral

Anggoro Aristo Priambodo | Minggu, 12/07/2026 05:01 WIB


Mengapa pemburu `views` kian marak dan melupakan esensi kemanfaatan? Ilustrasi bermain sosial media

Katakini.com - Dunia digital hari ini tengah dikepung oleh badai pencarian panggung verbal yang dikenal dengan istilah fenomena ingin viral.

Banyak orang kini rela menggadaikan rasa malu dan akal sehat demi meraup angka pengikut serta tombol suka yang semu.

Hasrat untuk selalu dilihat dan dipuji oleh manusia telah menggeser orientasi hidup yang sejatinya harus dipenuhi kebermanfaatan.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur`an Surat Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan duniawi sering kali hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Baca juga :
Statistik Head to Head Timnas Spanyol vs Prancis

"...Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang mengecohkan." (QS. Al-Hadid: 20)

Baca juga :
Mengapa Hari Koperasi Indonesia Diperingati Setiap 12 Juli?

Penyakit wahn atau cinta dunia yang berlebihan membuat manusia modern haus akan pengakuan dan validasi dari sesama makhluk.

Padahal, Rasulullah SAW secara tegas memberikan standar kemuliaan seorang Muslim berdasarkan seberapa besar kontribusi kebaikannya bagi sesama.

Baca juga :
Mantan Kapten Timnas Argentina Meninggal Dunia

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya." (HR. Thabrani)

Ketika popularitas dikejar tanpa jalur syariat, ia kerap melahirkan sifat riya dan ujub yang siap menghanguskan seluruh pahala amal saleh.

Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan syirik kecil ini menimpa umatnya, sebagaimana terekam dalam sebuah hadist shahih mengenai bahaya riya.

"Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: `Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?` Beliau menjawab: `Riya`." (HR. Ahmad)

Ketenaran yang tidak dibangun di atas pondasi takwa hanya akan melahirkan istidraj kenikmatan semu yang perlahan menuntun pada kebinasaan.

Islam tidak melarang seseorang untuk dikenal, namun melarang keras menjadikan tepuk tangan manusia sebagai tujuan utama kehidupan.

Generasi salafus saleh terdalam justru sering kali bersembunyi dari ketenaran karena takut akan fitnah hati yang ditimbulkannya.

Sudah saatnya kita memindahkan fokus dari sekadar mengumpulkan jumlah penonton menuju akumulasi amal jariah yang abadi.

Setiap konten yang diunggah dan viral kelak akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ia menjadi ladang pahala atau justru dosa jariah.

Mari kita tata kembali niat di jempol dan hati agar tidak terjebak dalam lingkaran fatamorgana dunia yang melalaikan ini.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
fenomena viral mengejar popularitas jariah dosa digital