Lunturnya Syukur, Pemuda Muslim dan Budaya Flexing

Anggoro Aristo Priambodo | Minggu, 12/07/2026 01:06 WIB


Ketika Pamer Dunia Mengalahkan Rasa Syukur di Media Sosial Ilustrasi anak muda flexing barang mewah

Katakini.com - Gemerlap media sosial kini telah mengubah gaya hidup sebagian besar pemuda Muslim menjadi ajang pamer kemewahan.

Fenomena flexing atau memamerkan kekayaan seolah telah menjadi standar baru untuk mendapatkan pengakuan dan validasi sosial.

Setiap pencapaian materi, mulai dari kendaraan mewah hingga liburan mahal, langsung diunggah demi limpahan pujian digital.

Perilaku ini perlahan mengikis esensi rasa syukur yang seharusnya tertanam kuat di dalam hati setiap insan beriman.

Baca juga :
Bolehkah Istikharah untuk Memilih Jodoh?

Padahal, Al-Qur`an secara tegas mengingatkan manusia agar tidak teperdaya oleh gemerlapnya kehidupan duniawi.

Baca juga :
Statistik Head to Head Timnas Spanyol vs Prancis

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu dan menipu.

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, dan perhiasan." (QS. Al-Hadid: 20)

Baca juga :
Mengapa Hari Koperasi Indonesia Diperingati Setiap 12 Juli?

Ketika fokus hidup hanya tertuju pada penilaian manusia, keikhlasan dalam beribadah dan bermuamalah pun rawan sirna.

Nabi Muhammad SAW juga telah mengkhawatirkan sifat pamer atau riya ini sebagai syirik kecil yang paling ditakuti menimpa umatnya.

Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda bahwa riya dapat menghapus pahala amal kebaikan seseorang secara tidak sadar.

Sikap gemar pamer ini juga berpotensi besar memicu penyakit ain yang nyata dan berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Gaya hidup flexing pun mencerminkan hilangnya sifat qanaah, yaitu merasa cukup dan rida atas segala ketetapan serta rezeki dari Allah.

Dampak buruknya, pemuda yang terjebak dalam lingkaran ini akan selalu merasa kurang dan terus memburu standar duniawi yang tiada habisnya.

Mereka melupakan bahwa di balik setiap nikmat yang dititipkan, ada tanggung jawab besar dan hak orang miskin yang wajib ditunaikan.

Sudah saatnya pemuda Muslim bijak bermedia sosial dengan mengedepankan kesederhanaan dan menjadikan platform digital sebagai sarana syiar.

Mari kembalikan esensi kebahagiaan pada rasa syukur yang tulus, bukan pada jumlah pengikut maupun pujian semu di jagat maya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Pemuda Muslim budaya flexing media sosial Islami