PTP Nonpetikemas Komit Terapkan Green Port dalam Operaskional Perusahaan

Aliyudin | Selasa, 26/05/2026 09:18 WIB


Penerapan green port diwujudkan melalui penerapan sistem manajemen lingkungan berbasis ISO 14001 Penggunaan overhead crane di PTP Nonpetikemas Tanjung Priok, Jakarta, agar operasional lebih ramah lingkungan dan melindungi kesehatan pekerja. Foto: ptpn/katakini

JAKARTA – PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) mengklaim berkomitmen menerapkan konsep green port dalam seluruh operasional perusahaan. Tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga perlindungan kesehatan pekerja serta penciptaan dampak sosial berkelanjutan bagi masyarakat sekitar wilayah operasional.

Green port bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlangsungan operasional yang sehat dan aman bagi pekerja. Kami memandang bahwa perlindungan terhadap kesehatan pekerja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan bisnis,” ujar Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani melalui keterangannya, Selasa (26/5/2026).

Indra mengatakan, penerapan green port diwujudkan melalui penerapan sistem manajemen lingkungan berbasis ISO 14001 dan penilaian PROPER, pengendalian emisi, efisiensi energi, pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R, serta optimalisasi proses bongkar muat yang lebih ramah lingkungan.

Di sisi operasional, PTP Nonpetikemas juga mengimplementasikan berbagai inovasi seperti penggunaan lampu LED, pemanfaatan overhead crane (OHC) untuk mengurangi ketergantungan alat berbahan bakar fosil, hingga elektrifikasi alat bongkar muat sebagai bagian dari transisi menuju operasional rendah emisi.

Baca juga :
Ibas Ajak Organisasi Mahasiswa Perkuat Persatuan, Harmoni dan Pengabdian untuk Negeri

Seluruh lini bisnisnya juga mengimplementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) untuk mendukung operasional pelabuhan yang lebih bersih, efisien, aman, dan berkelanjutan.

Baca juga :
Amerika Serikat Serang Wilayah Selatan Iran

Dalam penanganan komoditas curah cair, langkah preventif pencemaran dilakukan melalui penyiapan oil boom sebelum kegiatan bongkar muat serta peningkatan kesiapsiagaan melalui pelatihan IMO OPRC untuk memastikan respons cepat terhadap potensi pencemaran laut.

PTP Nonpetikemas juga menempatkan aspek kesehatan pekerja sebagai bagian utama implementasi green port. Aktivitas bongkar muat, khususnya pada komoditas curah kering, memiliki potensi paparan debu dan faktor lingkungan lainnya yang dapat berdampak pada kesehatan pekerja.

Baca juga :
Harga Emas di Pegadaian, Selasa Pagi Ini

Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami menambahkan bahwa green port adalah kebutuhan, bukan lagi pilihan.

“Industri pelabuhan harus bergerak menuju operasional yang lebih bersih dan berkelanjutan, karena di balik itu ada aspek yang paling penting, yaitu kesehatan dan keselamatan manusia,” ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi, perusahaan menerapkan pendekatan HSSE melalui HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control) dan Health Risk Assessment (HRA) untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko kesehatan secara menyeluruh di 11 cabang operasional perusahaan.

Program kesehatan kerja seperti medical check-up (MCU), fit to work, serta pengukuran kualitas lingkungan kerja juga dilakukan secara berkala guna memastikan kondisi pekerja tetap sesuai standar keselamatan dan kesehatan kerja.

Untuk menekan paparan polusi di lapangan, dilakukan antara lain penyiraman rutin area dermaga dan stockpile, penerapan dust suppression system, penggunaan alat ukur debu, hingga pengaturan operasional untuk mengurangi waktu idle alat berat.

Budaya keselamatan kerja juga terus diperkuat melalui pelaksanaan lebih dari 1,27 juta safety patrol sepanjang tahun 2025 serta lebih dari 14.000 safety briefing yang dilakukan secara konsisten di seluruh wilayah operasional perusahaan.

“Pemanfaatan HSSE Dashboard turut mendukung pemantauan kondisi lapangan secara real-time dan mempercepat pengendalian potensi risiko melalui integrasi sistem digital,” kata Fiona.

Selain fokus pada operasional hijau dan kesehatan pekerja, PTP Nonpetikemas juga memperkuat kontribusi sosial dan lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang selaras dengan prinsip ESG dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Hingga saat ini, PTP Nonpetikemas telah melaksanakan berbagai program TJSL yang terstruktur dalam beberapa pilar utama, antara lain pendidikan, lingkungan, pengembangan UMKM, serta sosial kemasyarakatan.

Terdapat 3 program berbasis Creating Shared Value (CSV) terdiri dari PTP Peduli K3 yang dilaksanakan di seluruh cabang dan bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan, kompetensi dan sertifikasi profesi bagi pekerja harian untuk memperkuat layanan di Terminal Kijing, serta EduPort: Magang inovasi dan berkarya sebagai upaya peningkatan kapasitas mahasiswa dan menciptakan ragam inovasi dunia kepelabuhanan.

Dalam aspek lingkungan, perusahaan juga berpartisipasi dalam penanaman 11.000 bibit mangrove. Sementara pada aspek sosial, program Employee Social Responsibility (ESR) melibatkan ratusan partisipasi aktif karyawan dalam berbagai kegiatan seperti bantuan pendidikan, pembagian sembako dan takjil, donor darah, santunan anak yatim, hingga bantuan tanggap bencana.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Indra Hidayat Sani Green port Operasional pelabuhan