Ilustrasi Letusan Gunung Krakatau tahun 1883. (FOTO: BERBEEL; 1887)
JAKARTA - Pada akhir Agustus 1883, perairan Selat Sunda menjadi saksi gagu atas terjadinya salah satu bencana alam dahsyat dan mematikan dalam sejarah peradaban manusia modern.
Erupsi paroksismal Induk Gunung Krakatau tidak hanya menghancurkan dua pertiga tubuh gunung dan meratakan permukiman pesisir Banten serta Lampung, tetapi juga melontarkan jutaan ton material vulkanik hingga menembus lapisan stratosfer bumi.
Dampak dari ledakan kolosal tersebut melampaui batas-batas kepulauan Nusantara, memicu penurunan suhu global, dan membuat cahaya matahari di berbagai belahan dunia meredup selama bertahun-tahun.
Puncak erupsi katastropik terjadi pada 26–27 Agustus 1883. Empat ledakan raksasa berturut-turut memicu gelombang kejutan yang mengitari bumi hingga tujuh kali.
Suara dentuman dahsyatnya terdengar hingga sejauh 4.800 kilometer, mencapai Pulau Rodriguez di Samudra Hindia dan Alice Springs di Australia.
Gelombang tsunami raksasa setinggi lebih dari 30 hingga 40 meter yang dipicu oleh runtuhnya kaldera Krakatau menghempas ribuan desa di sepanjang pesisir Selat Sunda.
Catatan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu mengonfirmasi lebih dari 36.000 jiwa tewas, menjadikannya salah satu bencana tsunami paling mematikan dalam sejarah dunia.
Tidak berhenti pada kehancuran lokal, semburan gas sulfur dioksida dan abu vulkanik halus berukuran mikron terlempar hingga ketinggian 80 kilometer ke lapisan stratosfer.
Di udara, gas sulfur bereaksi dengan uap air membentuk aerosol asam sulfat yang memantulkan kembali radiasi sinar matahari ke luar angkasa.
Fenomena ini menyebabkan terjadinya penyelimutan atmosfer secara global (vulkanik winter). Berdasarkan studi iklim histori, rata-rata suhu global tercatat mengalami penurunan hingga 1,2 derajat Celsius pada tahun-tahun pasca-letusan.
Cuaca ekstrem dan pola musim yang kacau melanda berbagai negara, memicu kegagalan panen di Eropa, Amerika Utara, hingga Asia.
Partikel aerosol yang melayang di stratosfer juga memicu anomali fenomena optik di langit malam belahan bumi utara.
Selama hampir tiga tahun setelah erupsi, masyarakat di London, New York, hingga Paris menyaksikan fenomena langit senja (sunset) berwarna merah darah dan ungu terang yang sangat mencolok.