• Gaya Hidup

Sejarah Kemunculan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

M.Habib Saifullah | Minggu, 06/09/2026 13:15 WIB
Sejarah Kemunculan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Ilustrasi Letusan Gunung Krakatau tahun 1883. (FOTO: BERBEEL; 1887)

JAKARTA - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026 yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga hari ini.

Tingginya aktivitas letusan ini juga menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga ke wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Bahkan pada Minggu (6/9) hari ini, abu vulkaniknya sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia termasuk Jabodetabek.

Diketahui bahwa kehadiran Gunung Anak Krakatau di tengah perairan Selat Sunda merupakan salah satu fenomena geologi paling luar biasa dalam sejarah ilmu vulkanologi modern.

Munculnya pulau gunung api aktif ini tidak lepas dari sisa bencana katastropik letusan maha-dahsyat Induk Gunung Krakatau pada Agustus 1883. Erupsi legendaris tersebut menghancurkan tiga perempat tubuh gunung induk dan meninggalkan kaldera raksasa di bawah permukaan laut.

Setelah menghening selama lebih dari empat dekade pasca-letusan 1883, aktivitas magmatis di dasar kaldera bawah laut tersebut kembali bergejolak dan secara bertahap memicu lahirnya Gunung Anak Krakatau ke permukaan laut.

Berdasarkan catatan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tanda-tanda awal kemunculan Gunung Anak Krakatau terdeteksi pada 29 Desember 1927.

Saat itu, para nelayan dan peneliti era kolonial mengamati munculnya semburan asap, gelembung gas, serta lelehan abu vulkanik freatomagmatik dari kedalaman sekitar 188 meter di bawah permukaan Selat Sunda.

Aktivitas vulkanik berupa semburan air bercampur abu dan lava pijar (lava fountain) tersebut berlangsung secara terus-menerus di titik bekas pusat Gunung Perboewatan dan Gunung Danan yang runtuh saat erupsi 1883.

Material vulkanik yang menumpuk di dasar laut secara bertahap membentuk endapan batu piroklastik yang kian menjulang.

Fenomena puncaknya terjadi pada kurun waktu 1928 hingga 1930, ketika puncak endapan tanah dan batuan vulkanik tersebut akhirnya menembus permukaan air laut.

Pada pertengahan Agustus 1930, sebuah pulau daratan baru secara permanen berdiri di atas perairan Selat Sunda, yang kemudian secara resmi dinamai Gunung Anak Krakatau.

Sejak kemunculan resminya pada 1930, Gunung Anak Krakatau dikenal sebagai gunung api yang sangat aktif dan bertumbuh dengan pesat. Proses pertumbuhan ini dipicu oleh karakter magma basaltik cair yang terus memancar dan menumpuk material di sekeliling kawahnya. Rata-rata ketinggian gunung ini bertambah sekitar 3 hingga 5 meter setiap tahunnya.

Sebelum mengalami keruntuhan tubuh (flank collapse) yang memicu bencana tsunami pada Desember 2018, Gunung Anak Krakatau sempat mencapai ketinggian lebih dari 338 meter di atas permukaan laut.

Kehadirannya kini dikelilingi oleh tiga pulau sisa bentukan induknya, yakni Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.