Puing-puing rumah usai serangan udara Israel ke wilayah Gaza.
JAKARTA - Seorang wanita Palestina penderita kanker meninggal dunia di Gaza pada bulan lalu saat berjuang mendapatkan izin perjalanan ke Inggris bersama suami dan anak-anaknya, setelah permohonan visa mereka ditolak oleh Kementerian Dalam Negeri Inggris (Home Office).
Pihak keluarga mengungkapkan bahwa Maryam (30) seharusnya masih bisa diselamatkan apabila otoritas Inggris mengizinkan proses evakuasi medis serta reunifikasi keluarga sejak permohonan pertama kali diajukan.
Anwar, seorang pengungsi asal Gaza yang kini menetap di Glasgow, Skotlandia, menyatakan kepada The Guardian pada Sabtu (5/9/2026) bahwa iparnya tersebut mengembuskan napas terakhir akibat ketiadaan fasilitas medis yang memadai di wilayah konflik tersebut.
Anwar melarikan diri dari Gaza pada 2020 dan mendapatkan status pengungsi di Inggris pada tahun berikutnya. Pasca-meletusnya perang di Gaza pada Oktober 2023, ia mengajukan permohonan resmi pada Oktober 2025 untuk memboyong saudaranya, Hassan, bersama Maryam dan kedua anak mereka yang masih balita ke Inggris.
Proses pengajuan visa tersebut terkendala oleh syarat wajib pengambilan data biometrik di pusat aplikasi visa. Di wilayah Gaza sendiri tidak terdapat fasilitas pusat biometrik, sementara warga Palestina menghadapi hambatan yang sangat berat untuk keluar dari area konflik guna mengakses fasilitas serupa di luar negeri.
Pada April, pihak keluarga telah meminta Home Office untuk memberikan pengecualian syarat biometrik (biometric excusal) serta mengizinkan proses pra-penentuan (predetermination). Namun, permintaan tersebut ditolak hingga memicu langkah hukum dari pihak keluarga.
Meskipun Home Office sempat setuju untuk meninjau ulang, penolakan kembali diterbitkan pada Juli. Pada saat yang sama, kondisi kesehatan Maryam terus memburuk secara drastis.
Satu bulan setelah melahirkan putranya, Ismail—yang kini berusia tujuh bulan—Maryam didiagnosis mengidap karsinoma sel ginjal yang telah menyebar hingga ke paru-paru. Tim medis di Gaza mengonfirmasi kepada keluarga bahwa seluruh rumah sakit di wilayah tersebut tidak memiliki peralatan memadai untuk menangani kanker stadium lanjut.
Pihak keluarga telah melampirkan bukti medis lengkap, meliputi hasil tes kanker, surat rujukan dokter, hingga gambaran kondisi hidup mereka yang terpaksa tinggal di tenda pengungsian dengan krisis air bersih, makanan, serta obat-obatan.
Home Office dalam surat resminya tertanggal 31 Juli mengakui fakta bahwa Maryam mengidap kanker dan memahami kondisi krisis di Gaza. Dokumen tersebut bahkan menyatakan: "Mengingat situasi saat ini di Gaza, layanan kesehatan yang andal mungkin tidak dapat diakses."
Otoritas Inggris juga mengakui adanya risiko keselamatan yang tinggi bagi Maryam berada di zona konflik tanpa akses ke pusat aplikasi biometrik.
Kendati demikian, pejabat terkait menyimpulkan bahwa meskipun situasi keluarga tersebut "cukup mendesak," keputusan terbaik bagi anak-anak adalah tetap tinggal bersama orang tua mereka di Gaza dan menunda perjalanan ke Inggris.
Pemerintah Inggris menilai kondisi keluarga tersebut belum memenuhi ambang batas "keadaan luar biasa" (compelling circumstances) untuk membebaskan syarat biometrik. Selain itu, pemeriksaan pra-kedatangan dinilai tetap mutlak diperlukan karena para pemohon berasal dari "wilayah tempat kelompok teroris beroperasi."
Kuasa hukum keluarga mempertanyakan keputusan keras tersebut. "Sangat sulit memahami situasi seperti apa lagi yang dianggap mendesak jika kondisi kritis seperti ini saja tidak memenuhi syarat," tegasnya.
Maryam akhirnya meninggal dunia akibat kanker pada 28 Agustus.
Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh untuk wilayah Glasgow South, Gordon McKee, sebenarnya telah mengangkat kasus ini ke tingkat kementerian sejak Juni lalu. McKee mendesak Menteri Dalam Negeri saat itu, Mike Tapp, untuk meninjau kasus ini secara pribadi atas dasar kemanusiaan.
"Saya percaya jika Home Office menyetujui evakuasi Maryam dan keluarganya dari Gaza sejak permohonan pertama Oktober tahun lalu, Maryam masih hidup hari ini," ujar Anwar.
"Maryam kini telah tiada, tetapi keluarganya masih terjebak di Gaza. Kami mendesak Pemerintah Inggris untuk segera mengintervensi guna melindungi sisa anggota keluarga yang bertahan dan membawa mereka ke tempat aman," tambahnya.
Dari lokasi pengungsian di Gaza, suami Maryam, Hassan, meluapkan duka mendalam atas kehilangan istrinya di tengah gempuran konflik.
"Saya berjuang keras untuk menerima kenyataan kehilangan istri saya, sementara saya masih terjebak di Gaza bersama anak-anak kami, termasuk bayi kami yang baru berusia tujuh bulan," tutur Hassan.
Hassan menceritakan bagaimana sisa hidup istrinya dihabiskan hanya untuk mengurus burokrasi pengecualian biometrik visa Inggris yang tak kunjung dikabulkan.
"Pemerintah Inggris mengakui Maryam menderita kanker dan menerima seluruh bukti medis, namun mereka tetap memutuskan bahwa kondisi kami belum cukup mendesak. Kini istri saya telah meninggal, dan saya harus mencari cara menyelamatkan anak-anak keluar dari Gaza," terangnya.
Juru bicara Home Office menyatakan pihaknya secara kebijakan tidak memberikan komentar atas kasus perorangan.
Sumber: Arabnews