• Gaya Hidup

Menelusuri Legenda Mistik Gunung Anak Krakatau

M.Habib Saifullah | Minggu, 06/09/2026 14:45 WIB
Menelusuri Legenda Mistik Gunung Anak Krakatau Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik, Minggu (6/9/2026) (Foto: ANTARA/Handout)

JAKARTA - Gunung Anak Krakatau di perairan selat sunda kembali mengalami erupsi yang masih berlangsung hingga saat ini.

Tak hanya dikenal akan potensi geologisnya yang sangat aktif, Gunung Anak Krakatau juga diiringi berbagai kebudayaan tutur rakyat yang menyelimutinya.

Sejak abad ke-19 hingga pasca-kemunculan Gunung Anak Krakatau pada 1930, masyarakat kerap mengaitkan aktivitas vulkanik gunung ini dengan berbagai mitos, legenda lokal, serta fenomena gaib.

Meskipun ilmu sains modern telah menjelaskan seluruh proses pembentukan dan letusan vulkaniknya, kisah-kisah mistis ini tetap hidup dan menjadi bagian dari warisan cerita rakyat Nusantara.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini lima mitos dan cerita mistik yang melekat pada keberadaan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda:

1. Mitos Kerajaan Gaib Selat Sunda

Keberadaan kawasan Kepulauan Krakatau diyakini oleh sebagian masyarakat lokal sebagai pusat atau istana dari kerajaan makhluk halus penguasa Selat Sunda.

Menurut mitos lokal, gelombang laut yang mengamuk dan letusan api yang memancar merupakan perlambang adanya hajatan atau pertikaian antar penghuni dunia gaib tersebut.

2. Legenda Burung Garuda Raksasa

Dalam mitologi masyarakat pesisir Lampung kuno, terdapat kisah tentang seekor burung raksasa yang menjadi penjaga perairan Selat Sunda.

Semburan asap dan abu dari kawah Gunung Anak Krakatau kerap dikaitkan oleh sebagian orang tua zaman dahulu sebagai nafas panas atau kepakan sayap dari sang burung pelindung.

3. Misteri Suara Tangisan dan Bisikan Pesisir

Pasca-letusan dahsyat Induk Krakatau pada 1883 yang menelan puluhan ribu korban jiwa, timbul cerita mistis di kalangan nelayan malam.

Beberapa nelayan mengaku pernah mendengar rintihan atau suara riuh dari arah pulau ketika melewati perairan Selat Sunda pada malam-malam tertentu, yang diyakini masyarakat setempat sebagai memori gaib dari peristiwa masa lalu.

4. Sosok Penjaga Api dan Penjelmaan Krakatau

Kemunculan daratan baru Gunung Anak Krakatau pada kurun 1927–1930 diiringi dengan anggapan mistis bahwa gunung ini dipimpin oleh sosok penunggu spiritual.

Warga lokal meyakini bahwa letusan yang terjadi adalah bentuk kemarahan atau teguran dari sang penunggu jika terdapat manusia yang bertindak tidak sopan di sekitar area perairan.

5. Pantangan Bertindak Tak Sopan di Pulau

Para pemandu wisata lokal dan nelayan hingga kini memiliki aturan tidak tertulis bagi siapa saja yang mendekati kawasan pulau. Para pengunjung dilarang berteriak, merusak alam, atau berniat jahat.

Mitos yang beredar menyebutkan bahwa siapapun yang melanggar pantangan ini akan disesatkan oleh kabut tebal atau mengalami kejadian tidak masuk akal saat berlayar pulang.