Ilustrasi upload ke social media ketika berbuat baik
Katakini.com - Media sosial kini telah mengubah lanskap kehidupan manusia, termasuk dalam cara seorang muslim mengekspresikan kehidupan beragamanya.
Batasan antara syiar agama dan pamer ibadah kini menjadi sangat tipis, bahkan nyaris tidak terlihat lagi.
Setiap aktivitas spiritual, mulai dari sedekah, umrah, hingga salat malam, kini dengan mudahnya diunggah demi mendapatkan validasi publik.
Fenomena inilah yang memicu suburnya penyakit riya digital, sebuah kondisi di mana ibadah sengaja dipertontonkan demi mendulang pujian.
Riya sendiri merupakan syirik kecil yang sangat ditakuti oleh Rasulullah SAW karena sifatnya yang halus dan merusak keikhlasan.
Nabi Muhammad SAW secara tegas memperingatkan umatnya mengenai bahaya tersembunyi yang menyerupai semut hitam di atas batu hitam ini.
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: `Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?` Beliau menjawab: `Riya`." (HR. Ahmad).
Di era digital, pujian tidak lagi berbentuk ucapan langsung, melainkan bermutasi menjadi jumlah likes, views, dan kolom komentar yang positif.
Pengejaran terhadap algoritma duniawi ini tanpa disadari perlahan-lahan mengikis esensi utama dari ibadah, yaitu ketulusan lillahi ta`ala.
Akibat paling fatal dari perilaku ini adalah hilangnya seluruh pahala amalan yang telah dikerjakan dengan susah payah.
Allah SWT secara gamblang memberikan perumpamaan bagi orang-orang yang gemar memperlihatkan kebaikan mereka hanya demi pencitraan sosial.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia..." (QS. Al-Baqarah: 264).
Ibadah yang tercampur riya diibaratkan seperti debu yang beterbangan, tampak megah di layar kaca namun kosong di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, sebelum menekan tombol unggah di gawai kita, penting untuk melakukan jeda dan memeriksa kembali niat terdalam hati.
Menjaga kerahasiaan ibadah di zaman modern memang berat, tetapi itulah benteng utama dalam menyelamatkan iman dari kehancuran.
Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang dakwah yang tulus, bukan panggung sandiwara untuk memburu kekaguman manusia yang semu.