• Gaya Hidup

Rekomendasi Wisata Sejarah Populer di Jakarta, Yuk Ramaikan

M.Habib Saifullah | Rabu, 01/07/2026 19:01 WIB
Rekomendasi Wisata Sejarah Populer di Jakarta, Yuk Ramaikan Museum Nasional

JAKARTA - Sebagai kota metropolitan yang telah melewati berbagai lintasan zaman, DKI Jakarta menyimpan kekayaan historis yang sangat pekat.

Jauh sebelum dipenuhi gedung pencakar langit, kota ini merupakan bandar perdagangan internasional yang strategis.

Bagi masyarakat yang ingin merasakan atmosfer masa lalu sekaligus memahami akar budaya ibu kota, ragam destinasi cagar budaya tersebar di berbagai sudut kota.

Berikut ini enam rekomendasi destinasi wisata sejarah di Jakarta yang menyajikan lorong waktu ke masa lampu:

1. Kawasan Kota Tua dan Museum Fatahillah

Kawasan Kota Tua merupakan episentrum pariwisata sejarah di Jakarta. Pusat dari kawasan ini adalah Taman Fatahillah, yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan berarsitektur kolonial Belanda.

Di tempat ini berdiri Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) yang dahulu berfungsi sebagai Gedung Balai Kota Batavia (Stadhuis).

Pengunjung dapat melihat replika permukiman prasejarah Jakarta, koleksi mebel kuno, hingga penjara bawah tanah yang sarat nilai historis.

2. Pelabuhan Sunda Kelapa

Bagi yang ingin menelusuri cikal bakal lahirnya Jakarta, Pelabuhan Sunda Kelapa adalah lokasi yang tepat. Bandar laut ini telah beroperasi sejak zaman Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran pada abad ke-12.

Hingga hari ini, Pelabuhan Sunda Kelapa masih aktif melayani aktivitas bongkar muat komoditas.

Pemandangan barisan Kapal Motor Pinisi tradisional yang bersandar di sepanjang dermaga menjadi daya tarik visual yang khas di kawasan Jakarta Utara ini.

3. Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah)

Terletak di kawasan Medan Merdeka Barat, Museum Nasional Indonesia merupakan salah satu museum purbakala dan sejarah terbesar di Asia Tenggara.

Berdiri sejak tahun 1862, museum ini menyimpan ratusan ribu artefak prasejarah, arca-arca kuno dari berbagai kerajaan di Nusantara, hingga koleksi keramik langka.

Keberadaan patung gajah berbahan perunggu di halaman depan—yang merupakan hadiah dari Raja Thailand pada abad ke-19—membuat museum ini ikonik di mata publik.

4. Monumen Nasional (Monas)

Monumen Nasional atau Monas bukan sekadar simbol geografis ibu kota, melainkan monumen peringatan yang dirancang untuk mengenang perlawanan rakyat Indonesia menembus kemerdekaan.

Di bagian dasar Monas, terdapat Ruang Kemerdekaan dan Museum Sejarah Nasional yang menampilkan puluhan diorama.

Diorama-diorama tersebut menggambarkan secara kronologis sejarah Indonesia sejak masa kerajaan, kolonialisme, hingga detik-detik proklamasi 1945.

5. Museum Prasasti

Museum Prasasti yang terletak di Tanah Abang, Jakarta Pusat, menyajikan konsep wisata sejarah yang unik karena menempati bekas pemakaman umum kolonial bernama Kerkhof Laeri.

Dibangun pada tahun 1795, museum terbuka ini mengoleksi ribuan batu nisan kuno bermaterial marmer dan perunggu dengan arsitektur khas Eropa abad pertengahan.

Di sini, pengunjung dapat melihat makam tokoh-tokoh penting masa Batavia, termasuk aktivis Soe Hok Gie.

6. Kawasan Pecinan Glodok

Bergeser ke arah Jakarta Barat, Kawasan Pecinan Glodok menawarkan wisata sejarah berbasis akulturasi budaya yang dinamis. Kawasan ini telah menjadi permukiman etnis Tionghoa sejak abad ke-17 pasca-peristiwa Geger Pecinan.

Pengunjung dapat menyusuri gang-gang tua, mengunjungi Vihara Dharma Bhakti (Jin De Yuan) yang merupakan kelenteng tertua di Jakarta, hingga menikmati arsitektur rumah-rumah toko klasik peninggalan masa lalu.