• News

Studi Teologi Indonesia Masuk 30 Besar Dunia, Apa Artinya?

Vaza Diva | Sabtu, 25/04/2026 12:30 WIB
Studi Teologi Indonesia Masuk 30 Besar Dunia, Apa Artinya? Menteri Agama, Nasaruddin Umar (Foto: kemenag)

JAKARTA - Menteri Agama, Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa studi teologi di Indonesia kini menempati posisi ke-29 dunia.

Pencapaian ini dinilai sebagai indikator kuat bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mengangkat reputasi intelektual Indonesia di tingkat global.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia memberikan sambutan sekaligus menutup Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Jakarta.

Ia menegaskan optimisme terhadap daya saing akademik lembaga keagamaan di dalam negeri yang terus menunjukkan perkembangan signifikan.

"Di antara ribuan fakultas ushuluddin dan teologi di seluruh dunia, kita berada pada urutan ke-29. Ini adalah bukti bahwa potensi tercepat bagi Indonesia untuk meraih penghargaan internasional di bidang keilmuan adalah melalui nilai-nilai keagamaan, dengan studi keislaman sebagai tawaran utamanya," ujar Menag, pada Jumat (24/4).

Lebih lanjut, Menag mengingatkan para alumni PTKIN agar tidak berpuas diri dengan capaian tersebut.

"Kita perlu membicarakan perkembangan terakhir ini. Kita harus tahu di mana posisi kita nantinya di tengah pergeseran global tersebut," kata Menag.

Selain itu, ia juga menyoroti faktor keamanan dan stabilitas nasional sebagai keunggulan Indonesia dalam menarik minat pelajar dari berbagai negara.

Kondisi yang kondusif dianggap menjadi nilai tambah untuk memperkuat posisi sebagai pusat studi keislaman dunia.

Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan melalui kolaborasi lintas elemen, termasuk peran aktif alumni.

Meski PTKIN telah menunjukkan kemajuan yang progresif, kontribusi pemikiran dari para lulusan tetap diperlukan untuk mempercepat pencapaian yang lebih besar.

"Saya mohon, mari kita berpikir ulang dan memungut kembali pemikiran-pemikiran strategis tentang apa yang harus kita lakukan. Target kita jelas, yaitu menjadikan Indonesia benar-benar sebagai pusat peradaban dunia Islam," ucap Menag.

Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong para alumni untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan pengakuan global terhadap kualitas pendidikan Islam Indonesia yang dikenal moderat dan inklusif.