Lebih dari 100 sandera diterbangkan kembali ke Kurdistan Irak setelah dibebaskan pada bulan Januari. (KRG)
JAKARTA - Ratusan migran asal wilayah Kurdistan, Irak, yang tengah melakukan perjalanan menuju Inggris dilaporkan telah diculik dan disiksa secara keji di Libya.
Laporan investigasi terbaru dari BBC pada Selasa waktu setempat mengungkapkan bahwa para korban tidak hanya disekap oleh kelompok milisi lokal, melainkan juga diancam akan diambil organ tubuhnya secara paksa.
Bukti foto dan kesaksian lisan yang dihimpun oleh BBC mengindikasikan kuat bahwa beberapa operasi pengambilan organ secara paksa tersebut benar-benar telah terjadi di lokasi penyekapan.
Menurut penuturan para korban yang selamat, hampir 180 migran dipaksa berdesakan di dalam satu sel dengan kondisi yang sangat sempit dan tidak manusiawi. Sedikitnya satu orang dilaporkan tewas di dalam ruang tahanan, sementara jumlah korban yang hingga kini masih berada dalam sekapan di Libya belum dapat dipastikan.
Pada awalnya, kelompok milisi tersebut disewa untuk memandu jalur pelarian para migran melintasi wilayah berbahaya di Libya menuju Laut Tengah demi bisa menyeberang ke Eropa. Namun, perselisihan hebat mengenai pembagian uang pecah antara milisi dengan Noah Aaron, seorang penyelundup manusia asal Kurdi-Irak yang saat ini sedang mendekam di penjara Prancis selama 10 tahun atas kasus terpisah.
Rincian kasus penculikan mengerikan ini mulai terkuak menyusul penyelidikan mendalam yang dilakukan BBC terhadap Kardo Jaf, seorang gembong penyelundup lain yang berhasil diringkus pihak berwenang pada bulan lalu.
Jaf dan Aaron diyakini kuat pernah bekerja sama di masa lalu, dengan mengendalikan operasi penyelundupan dari sebuah wilayah di Kurdistan, Irak, yang terkenal sebagai sarang jaringan penyelundupan manusia kelas kakap.
Sebagaimana diketahui, sebagian besar wilayah Libya saat ini dikendalikan oleh milisi-milisi saingan yang kerap memungut biaya izin transit dari para penyelundup. Salah satu faksi milisi ini kemudian menyandera kelompok yang dibawa Aaron, dengan dalih bahwa Aaron belum melunasi sisa pembayaran dari kesepakatan jalur pelarian sebelumnya.
Sejauh ini, lebih dari 100 sandera yang berhasil dibebaskan telah diterbangkan kembali ke kampung halaman mereka di Irak. Puluhan di antaranya kemudian memberanikan diri melapor ke pihak berwenang dengan membawa bukti-bukti foto luka robek di tubuh mereka, yang sangat identik dengan bekas operasi pengangkatan organ dan tanda penyiksaan fisik.
Otoritas keamanan Kurdistan mengkhawatirkan nasib para migran yang dipulangkan tersebut. Mereka menduga kuat bahwa bagi korban yang keluarganya sama sekali tidak mampu membayar uang tebusan, organ tubuh mereka telah dipanen secara paksa oleh milisi sebagai kompensasi pengganti uang.
Kondisi selama di dalam kamp penyanderaan pun digambarkan sangat brutal. Para migran hanya diberi makan sepotong roti per hari—itu pun jika mereka mampu membayar—dan dipaksa berbagi satu fasilitas toilet untuk ratusan orang.
Merespons tragedi ini, Pejabat Senior Kementerian Dalam Negeri Pemerintahan Regional Kurdistan, Hemn Merany, mengakui bahwa meskipun risiko kematian dan penyiksaan dalam jalur migrasi ilegal ini sangat tinggi, hal tersebut terbukti belum mampu menyurutkan arus gelombang pengungsi yang nekat bertaruh nyawa demi menuju Benua Eropa.