Din Syamsuddin: Laksanakan Idul Fitri Sesuai Keyakinan Tanpa Merusak Ukhwah

yahya | Kamis, 20/04/2023 01:22 WIB


Karena posisi bulan pada Jum`at 20 April 2023 masih di bawah imkan al-ru`yah maka tidak perlu diadakan Rapat Istbat yang hanya menghabiskan anggaran negara. Ucapan Idul Fitri 2022. (FOTO: FREEPIK)

JAKARTA - Perbedaan Idul Fitri 1 Syawal kerap terjadi, walaupun tidak selalu terjadi setiap tahun. Hal ini disebabkan perbedaan hadits yang dipakai, antara sempurnakan bilangan bulan dan perhitungkan atau perkirakan posisi hilal.

Demikian disampaikan salah satu tokoh PP Muhammadiyah M. Din Syamsuddin menyikapi perbedaan Idul Fitri 1 Syawal di Indonesia yang salinannya diterima katakini.com di Jakarta, Rabu (19/4/2023).

Menurut Din, dalam menentukan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebenarnya sama-sama menggunakan rukyat yang dalam bahasa Arab berarti melihat atau berpendapat.

“Perbedaannya yang satu menggunakan rukyat bil `aini (melihat dengan mata inderawi), dan yang satu rukyat bil `aqli (melihat dengan mata pikiran),” kata Din.

Baca juga :
Hapus Stigma Diskriminasi, RSPI Pastikan Standar Layanan JKN Setara

Keduanya menurut Din sulit dipertemukan, seperti meyakini sesuatu dengan melihatnya (seeing is believing) dan meyakini sesuatu dengan mengetahuinya (knowing is believing).

Baca juga :
Baleg DPR Dorong RUU Penyadapan untuk Beri Kepastian Hukum

“Umat Islam perlu menyikapi perbedaan dengan sikap dewasa dalam beragama,” katanya.

Sedangkan Pemerintah, lanjut Din, perlu berada di tengah dengan mengayomi semua pihak, dan tidak mengambil posisi tunggal.

Baca juga :
Prof. Didik J. Rachbini Nilai Ekosistem dan Kebijakan Tak Adil pada Perguruan Tinggi Swasta

Idul Fitri adalah ibadah berdasarkan keyakinan sesuai dalil naqli dan `aqli. Maka kepada Kaum Muslimimin untuk menunaikan Shalat Idul Fitri sesuai keyakinannya masing-masing tanpa merusak silaturahim dan ukhuwah Islamiyah,” tuturnya.

Sesuai amanat konstitusi, imbuh Din, Pemerintah harus mengayomi rakyat warga negara dengan memberi kebebasan menjalankan ibadat sesuai keyakinannya masing-masing.

“Karena posisi bulan pada Jum`at 20 April 2023 masih di bawah imkan al-ru`yah maka tidak perlu diadakan Rapat Istbat yang hanya menghabiskan anggaran negara,” katanya.

Adalah kepemimpinan hikmah berdasarkan Pancasila (kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan) utk mengumumkan bahwa pada tahun ini ada dua keyakinan tentang Idul Fitri yaitu 21 April 2023 dan 22 April 2023.

“Silakan umat memilihnya sesuai keyakinan dan tetap merayakan ldul Fitri dalam semangat ukhuwah Islamiyah,” tegas Din.

“Pemerintah menghormati dan mengayomi keduanya dengan mengizinkan fasilitas umum digunakan utk shalat Idul Fitri pada kedua hari tersebut,” tutup Din.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Idul Fitri 1 Syawal Muhammadiyah NU