Kurikulum Perguruan Tinggi Harus Aplikatif di Dunia Kerja

yahya | Rabu, 18/01/2023 10:09 WIB


Anggota HIPMI Lutfi Ginanjar menyampaikan saat ini anak muda Indonesia bisa dikatakan sebagai useless generation karena untuk mencari kerja maupun untuk membuat usaha sulit. Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar Hetifah Sjaifudian. Foto: dpr/kataklni.com.

JAKARTA - Kurikulum Pendidikan Tinggi (PT) harus lebih aplikatif untuk memenuhi dunia usaha dunia industri (DUDI) yang saat ini bergerak lebih cepat daripada pendidikan. Digitalisasi dan hilirisasi industri menjadi penting baik itu bagi pengusaha maupun pekerja agar dapat mengikuti perkembangan zaman.

“Diperlukan manpower education plan bagi perguruan tinggi  Indonesia agar lulusannya dapat terserap secara maksimal. Karena memang lulusan perguruan tinggi saat ini harus memiliki skill sesuai dengan kebutuhan industri,” kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sajifudian saat RDPU dengan KADIN dan HIMPI membahas tantangan daya serap perguruan tinggi terhadap DUDI, Selasa (17/1/2023).

Sebagaiamana dilansir dpr.go.id, Rabu (18/1/2023), KADIN mengusulkan rekomendasi untuk perguruan tinggi di Indonesia, daintaranya; melakukan pemisahan antara belajar dan asesmen; membuat perguruan tinggi lebih inklusif; penekanan pada pentingnya fundamental skill dan soft skill saat seleksi masuk dan syarat kelulusan; dan penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi.

Sedangkan usulan dari HIPMI sebagai rekomendasi kebijakan diantaranya: penguatan inkubator bisnis sebagai venture builder; penguatan kolaborasi antara civitas akademika dengan mahasiswa untuk akselerasi pertumbuhan wirausaha; sosialisasi oleh pemerintah ke pelaku usaha secara masif dan berkala terkait Kedai Reka Matching Fund maupun riset; peningkatan peran swasta dalam komersialisasi riset dan inovasi; dan optimalisasi peran BUMN.

Baca juga :
Iran Beri Hak Istimewa untuk Rusia dan China di Selat Hormuz

“Gagasan dari HIPMI dan KADIN seperti adanya venture builders ini sangat menarik. Karena selama ini kampus-kampus memiliki inkubator bisnis, tetapi tentu harapannya tidak berhenti disana saja. Karena jika kita bicara mahasiswa yang ingin berwirausaha pasti banyak. Tetapi yang benar-benar menjadi pengusaha mungkin hanya 5 persen saja,” terang Legislator F-Golkar itu.

Baca juga :
PBB Sebut Serangan Israel di Lebanon Hambat Penyaluran Bantuan

Sebelumnya, Ketua Komite Tetap Teknologi Pendidikan KADIN, Sabda menyampaikan bahwa dunia industri bergerak jauh lebih cepat daripada pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan tinggi sekarang harus lebih applicable untuk kebutuhan industri. Hal ini didukung oleh Akbar Himawan Buchari selaku Ketua HIPMI, yang menegaskan bahwa digitalisasi dan hilirisasi industri menjadi penting baik itu bagi pengusaha maupun pekerja agar dapat mengikuti perkembangan jaman.

Kemudian, Anggota HIPMI Lutfi Ginanjar menyampaikan saat ini anak muda Indonesia bisa dikatakan sebagai useless generation karena untuk mencari kerja maupun untuk membuat usaha sulit. Namun, Perguruan Tinggi di Indonesia masih memiliki potensi. Apalagi dengan adanya MBKM, ini sangat membantu sekali.

Baca juga :
Hari Kentang Sedunia 30 Mei: Ini Sejarah dan Tujuan Peringatannya
Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Komisi X Perguruan Tinggi Dunia Kerja