
Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador mengadakan konferensi pers, di Istana Nasional di Mexico City, Meksiko 30 September 2022. Foto: Reuters
JAKARTA - Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador pada hari Jumat mengkritik keadaan darurat yang diberlakukan di Peru untuk mengatasi protes kekerasan dan mengecam duta besar AS untuk Lima karena bertemu dengan pemimpin baru negara Amerika Selatan itu.
Kerusuhan di Peru meletus setelah penggulingan Presiden sayap kiri Pedro Castillo, yang ditangkap pekan lalu setelah berusaha membubarkan Kongres negara itu.
Lopez Obrador, seorang rekan sayap kiri, menyebut Castillo sebagai presiden Peru yang sah, meskipun dia bersikeras bahwa kebijakan luar negerinya didikte oleh non-intervensi dalam urusan negara lain.
Keadaan darurat Peru telah memberikan wewenang khusus kepada polisi dan membatasi kebebasan sipil. Lopez Obrador menggambarkan negara Andes berada dalam "keadaan terkepung".
"Kekerasan tidak boleh digunakan, rakyat tidak boleh ditekan dan kebebasan harus dijamin," kata Lopez Obrador dalam konferensi pers reguler.
Lopez Obrador membidik duta besar AS untuk Peru, Lisa Kenna, karena bertemu dengan Presiden Dina Boluarte, yang menggantikan Castillo.
Meksiko mengatakan itu bertujuan untuk mencapai kesepakatan dengan AS tentang jagung GM pada bulan Januari "Tidakkah itu tampak seperti tampilan arogansi, kegagalan untuk menghormati bagaimana sesuatu dilakukan?" tanyanya kepada wartawan.
Lopez Obrador kemudian mempertanyakan apakah pemerintah AS mengetahui apa yang dilakukan pejabatnya di Peru.
"Bahkan mungkin (Menteri Luar Negeri AS Antony) Blinken dari Departemen Luar Negeri tidak mengetahuinya, dan itu tergantung pada kedutaan," kata Lopez Obrador. "Karena itulah yang selalu mereka lakukan, terutama di Amerika Latin."
Pemerintah Meksiko mengatakan sedang berkonsultasi dengan otoritas Peru tentang permintaan suaka yang diajukan Castillo ke Meksiko.
Namun, jajak pendapat yang diterbitkan minggu ini oleh surat kabar Meksiko El Financiero mengatakan 52% orang Meksiko menentang pemberian suaka kepada Castillo, dengan hanya 37% yang mendukung. Itu juga menunjukkan 51% responden merasa Lopez Obrador harus menjauhi urusan negara lain, dengan 39% mengatakan dia benar untuk memberikan pandangannya.
Jum'at, 17/04/2026