
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Syamsu Rizal atau yang kerap disapa Daeng Ical (Foto: Ist)
JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB Syamsu Rizal menyoroti masih adanya celah pengawasan atau blind spot pada pertahanan udara di wilayah Indonesia Timur.
Politisi yang akrab disapa Daeng Ical ini mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi membuka peluang bagi pesawat asing untuk melakukan intersepsi tanpa terdeteksi. Hal itu ia sampaikan saat kunjungan kerja Komisi I DPR RI di Markas Komando Operasi Udara II Makassar, Jumat (12/6).
"Kita tidak ingin lagi ada blind spot yang membuat bisa ada intersepsi dari warga negara lain atau dari pesawat lain," kata Daeng Ical.
Ia mengingatkan bahwa Markas Komando Operasi Udara II Makassar bertanggung jawab atas sepertiga wilayah Indonesia, sehingga penguatan sistem deteksi dan kontrol ruang udara menjadi sangat mendesak.
Daeng Ical mengusulkan teknologi yang ada saat ini perlu ditingkatkan, tidak cukup hanya mengandalkan Ground Control Interception (GCI).
"Bukan hanya sekadar GCI, tetapi juga mungkin ada teknologi seperti AWACS atau Airborne Early Warning Control, sehingga kedepannya Indonesia Timur itu bisa menjaga Indonesia secara keseluruhan," ujarnya.
Menutup pernyataan, ia menekankan perlunya kemampuan mendeteksi potensi ancaman dari Unmanned Aerial Vehicle (UAV) maupun entitas udara lain yang dapat mengganggu kedaulatan NKRI. "Kita tidak menginginkan hal itu terjadi, tetapi kita harus bersiap," pungkas Daeng Ical.
Sabtu, 13/06/2026
Sabtu, 13/06/2026