
Arsip foto - Aparat TNI berjaga saat massa unjuk rasa mulai menaiki pagar gedung MPR/DPR RI, Senayan pada Jumat 29 Agustus 2025 (Foto: Ist)
JAKARTA - Sebanyak 18.504 personel dikerahkan untuk mengamankan dan aksi unjuk rasa yang digelar di sejumlah titik di wilayah Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8) hari ini.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Dr. Reynold EP Hutagalung mengatakan bahwa pengamanan dilakukan secara berlapis untuk memastikan penyampaian aspirasi berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
"Pengamanan mulai dilakukan sejak pukul 07.00 WIB dengan melibatkan sejumlah pejabat utama dan perwira pengendali," kata Reynold dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (27/8) melansir Antara.
Dia menyebutkan bahwa Pimpinan Polres Metro Jakarta Pusat memimpin langsung pengamanan aksi di Zona 1, kawasan Ring 1 DPR/MPR.
Sementara itu, Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Mirzal Maulana memimpin pelayanan pengamanan aksi di wilayah hukum Polsek Metro Gambir.
Menurut Reynold, pengamanan itu dibagi dalam sejumlah zona untuk mengantisipasi konsentrasi massa sekaligus menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas masyarakat.
Zona 2 meliputi sejumlah titik di sekitar kompleks DPR/MPR hingga Fly Over Semanggi.
Zona 3 mencakup Pintu Escape SPARK, TVRI, traffic light (TL) Hotel Mulia dan TL Asia Afrika.
Selanjutnya, Zona 4 meliputi kawasan Gerbang Pancasila, sementara Zona 5 mencakup Pospol Palmerah, Stasiun Palmerah, Masjid DPR hingga Gedung LHK.
Sementara, Zona 6 meliputi kawasan BPK RI, Lorong Warga dan Ladokgi Atas.
Selain itu, personel juga disiagakan di kawasan Bundaran HI dan Dukuh Atas untuk mengantisipasi pergerakan massa serta dampak terhadap arus lalu lintas.
Reynold menegaskan dalam pelaksanaan pengamanan, personel kepolisian yang bertugas tidak membawa senjata api maupun senjata tajam.
"Hal tersebut sebagai bentuk komitmen Polri mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif dalam memberikan pelayanan serta pengamanan aksi unjuk rasa," ujujar Reynoldarnya.
Selain pengamanan massa, personel lalu lintas juga disiapkan untuk melakukan pengaturan maupun pengalihan arus lalu lintas secara situasional.
Rekayasa lalu lintas akan diterapkan apabila terjadi peningkatan kepadatan atau massa aksi menutup ruas jalan tertentu.
Reynold menyebutkan pengamanan itu dilakukan dengan mengedepankan pendekatan humanis.
Polisi tetap memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kami hadir untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh masyarakat yang menyampaikan aspirasi. Kami mengedepankan pendekatan humanis, komunikasi, dan persuasif dalam melayani masyarakat," ujar Reynold.