Wamenkomdigi Nilai Ilmu Filsafat Semakin Relevan dengan Perkembangan AI

M.Habib Saifullah | Jum'at, 21/08/2026 08:35 WIB


Wamenkomdigi Nezar Patria menilai ilmu filsafat semakin relevan seiring dengan perkembangan terknologi kecerdasan buatan (AI). Ilustrasi Hari Filsafat Sedunia (FOTO: UWINNIPEG)

JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai ilmu filsafat semakin relevan seiring dengan perkembangan terknologi kecerdasan buatan (AI).

Hal ini didasarkan pada kemampuan AI dalam mengolah serta menghasilkan keputusan perlu selaras dengan kemampuan manusia untuk mempertanyakan nilai, tujuan, serta dampak dari keputusan tersebut.

"Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua decision making yang dibuat oleh Artificial Intelligence akan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat," kata Nezar dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Jumat (21/8).

Meski AI mampu menjelaskan berbagai pemikiran filsafat, kata Nezar, kemampuan tersebut berbeda dengan proses manusia dalam melakukan refleksi filosofis secara holistik dan kritis.

Baca juga :
Manchester City Saingi MU untuk Rekrut Bintang AS Roma

"Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat tapi belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat," ujarnya.

Baca juga :
Pentingnya Sanad Ilmu Dalam Menjaga Keotentikan Ajaran Islam

Tantangan etika AI, lanjut Wamen Nezar, akan semakin kompleks ketika teknologi berkembang menuju embodied AI atau physical AI, seperti robot humanoid yang mampu berinteraksi langsung dengan manusia.

Dengan dukungan large language model, robot dapat melakukan percakapan, mengenali lawan bicara, melakukan profiling, hingga membangun hubungan yang disebut sebagai synthetic relations.

Baca juga :
AS Siapkan Sanksi Ekonomi Terberat dalam Sejarah untuk Iran

"Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia," ujar dia.

Menurut Wamen Nezar, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai AI tidak cukup hanya melihat kemampuan teknologinya.

Manusia perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif agar dapat menentukan bagaimana AI seharusnya digunakan dan ke mana arah perkembangannya.

"Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat," kata Wamen Nezar.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Nezar Patria Wamenkomdigi RI Filsafat AI Kecerdasan Buatan