Menahan Emosi Demi Orang Lain

Anggoro Aristo Priambodo | Kamis, 13/08/2026 10:02 WIB


Belajar jujur pada perasaan sendiri sesuai petunjuk Al-Qur`an dan Sunnah. Ilustrasi foto keadaan hati

Katakini.com - Kebiasaan menahan dan menyembunyikan emosi demi memuaskan orang lain sering dianggap sebagai bentuk kebaikan yang mulia.

Padahal, berpura-pura selalu baik-baik saja di hadapan sesama dapat mengikis kejujuran terhadap kondisi jiwa sendiri.

Islam mengajarkan keikhlasan dan ketulusan, bukan kepalsuan emosi yang dipaksakan hanya untuk mencari keridaan manusia.

Terlalu fokus menyenangkan sesama sering kali membuat seseorang lupa bahwa kesehatan mental dan spiritualnya juga wajib dijaga.

Baca juga :
Sidang Tahunan MPR RI, Humas K/L Diminta Satu Narasi

Allah SWT secara tegas mengingatkan agar kita senantiasa berlaku jujur, termasuk jujur terhadap apa yang dirasakan di dalam hati.

Baca juga :
Carrick Angkat Bicara soal Nasib Marcus Rahsford di MU

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 70:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Baca juga :
DPR Kecam Dugaan Promosi Miras Pakai Ayat Al-Qur`an

Menyembunyikan rasa sakit atau ketidaksetujuan secara terus-menerus justru bisa memicu sifat munafik tanpa kita sadari.

Rasulullah SAW juga sangat melarang umatnya untuk menjadi pribadi yang bersikap ganda atau berpura-pura di depan orang lain.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua, yang datang kepada suatu kelompok dengan satu wajah dan ke kelompok lain dengan wajah yang lain.” (HR. Bukhari & Muslim)

Memendam emosi negatif seperti marah atau sedih secara berlebihan hanya akan menumpuk racun yang merusak kesehatan fisik dan pikiran.

Islam memberikan jalan keluar berupa penyaluran emosi yang bijak, seperti berdoa, berwudu, atau menyampaikan keluh kesah secara santun.

Menjaga perasaan orang lain tentu bernilai pahala, tetapi bukan berarti kita harus mengorbankan kebenaran dan keadilan bagi diri sendiri.

Mulai sekarang, belajarlah bersikap asertif dan berani berkata jujur tanpa harus melukai atau menghujat sesama.

Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi pribadi yang tulus, jujur pada diri sendiri, dan senantiasa mencari ridha-Nya semata.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
people pleaser kejujuran emosional adab mengungkapkan emosi