Mengapa Tabayyun Kini Menjadi Wajib?

Anggoro Aristo Priambodo | Minggu, 12/07/2026 21:05 WIB


Urgensi memeriksa kebenaran informasi demi membendung fitnah di dunia maya. Ilustrasi informasi digital

Katakini.com - Arus informasi di era digital mengalir bak air bah yang kerap mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan.

Kecepatan jempol dalam membagikan berita sering kali mendahului kerja akal sehat untuk mencerna kebenaran informasi tersebut.

Fenomena hoaks kini bukan lagi sekadar salah paham biasa, melainkan telah menjelma menjadi komoditas fitnah yang merusak tatanan sosial.

Islam sejak empat belas abad lalu telah memberikan solusi preventif yang sangat akurat melalui perintah untuk melakukan tabayyun.

Baca juga :
PVMBG Catat Gunung Anak Krakatau Tercatat 18 Kali Sejak Awal Juli

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an Surat Al-Hujurat ayat 6 mengenai kewajiban memeriksa berita yang dibawa oleh orang fasik.

Baca juga :
Iran dan Oman Bahas Situasi Selat Hormuz Usai Kembali Ditutup

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6)

Mengabaikan proses verifikasi ini bisa berakibat fatal, yaitu mencelakakan suatu kaum tanpa sengaja dan menghadirkan penyesalan mendalam.

Baca juga :
Penembakan di Festival Ini Tewaskan Dua Orang, Enam Lainnya Luka-luka

Setiap Muslim wajib menyadari bahwa menyebarkan setiap informasi yang didengar tanpa disaring adalah bentuk kedustaan yang nyata.

Rasulullah SAW mengingatkan bahaya moral ini dalam sebuah hadist sahih mengenai perilaku orang yang gemar berbicara tanpa dasar.

"Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap apa yang didengarnya." (HR. Muslim)

Dampak dari satu berita bohong yang menjadi viral bisa memicu perpecahan umat, menghancurkan reputasi, hingga menumpahkan darah.

Teknologi digital seharusnya digunakan untuk menegakkan keadilan informasi, bukan justru menjadi alat pengganda dosa jariah.

Prinsip saring sebelum sharing bukan sekadar jargon modern, melainkan manifestasi dari ketakwaan seorang hamba di ruang siber.

Ketika sebuah berita sensasional mampir di beranda kita, menahan diri untuk tidak menyebarkannya adalah sebuah bentuk jihad mutakhir.

Ketenangan dan kehati-hatian dalam memproses berita adalah sifat yang dicintai Allah, sedangkan ketergesa-gesaan adalah tabiat setan.

Kelak, setiap jempol yang membagikan hoaks akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat di hadapan Mahkamah Ilahi.

Mari kita kembalikan marwah media sosial sebagai ruang yang bersih dengan menjadikan tabayyun sebagai gaya hidup digital kita.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
pentingnya tabayyun bahaya hoaks etika berbagi informasi