Etika Berkendara Jadi Ibadah

Anggoro Aristo Priambodo | Selasa, 30/06/2026 22:04 WIB


Taat aturan lalu lintas bagian dari cerminan akhlak muslim sejati. Ilustrasi taat berlalulintas

Katakini.com - Banyak orang mengira ibadah hanya terbatas pada ritual formal seperti shalat, puasa, dan zikir di atas sajadah.

Padahal, ruang lingkup ibadah dalam Islam sangat luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk saat kita berada di jalan raya.

Ketika seorang muslim berkendara dengan tertib dan menghormati hak pengguna jalan lain, aktivitas tersebut bernilai pahala di sisi Allah.

Islam sangat menekankan pentingnya menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain dari segala bentuk bahaya di ruang publik.

Baca juga :
Ini Ngerinya Hisab Suami di Akhirat

Prinsip kemaslahatan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur`an Surat Al-Baqarah ayat 195 mengenai larangan mencelakakan diri:

Baca juga :
Bantah Mitos Bulan Sial Pernikahan

"...dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195).

Mematuhi rambu-rambu lalu lintas bukan sekadar takut ditilang polisi, melainkan bentuk ketaatan kepada pemimpin untuk menjaga ketertiban bersama.

Baca juga :
DPR Persilakan MUI Segera Serahkan Draf RUU Pidana LGBT

Al-Qur`an menegaskan bahwa menaati aturan yang dibuat oleh pihak berwenang (ulil amri) selama tidak bermaksiat adalah sebuah kewajiban.

Selain itu, bersikap santun dan menyingkirkan potensi bahaya di jalan raya merupakan bagian dari cabang keimanan yang nyata.

Rasulullah SAW secara eksplisit menjelaskan keutamaan aktivitas sosial ini dalam sebuah hadist sahih yang sangat populer.

Dalam sabdanya, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan lain dinilai sebagai ibadah sedekah:

"Kamu menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari tengah jalan adalah sedekah bagimu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dari itu, menahan diri dari berkendara ugal-ugalan dan tidak menyerobot lampu merah adalah wujud konkret dari sedekah modern.

Sebaliknya, sikap egois yang memicu kemacetan atau kecelakaan justru berpotensi membuahkan dosa karena merugikan hak-hak publik.

Seorang muslim yang baik dicirikan dari kemampuannya dalam memberikan rasa aman bagi lingkungan sekitarnya dari bahaya lisan maupun perbuatan.

Oleh karena itu, marilah kita transformasi setiap meter perjalanan kita di aspal menjadi ladang pahala dengan menjaga adab berkendara.

Semoga niat baik kita untuk tertib lalu lintas senantiasa dicatat sebagai amal saleh yang memperberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
adab berkendara taat lalu lintas gangguan jalan