
Pimpinan Pusat Muhammadiyah berharap Pansus Haji DPR tidak bermuatan politis. (Foto: Ibadah Haji/Kemenag)
Jakarta, Jurnas.com - Melaksanakan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi umat Muslim yang memenuhi syarat istitha`ah, baik secara fisik, mental, maupun finansial.
Agar ibadah ini berjalan sah dan sesuai syariat, jemaah harus melalui serangkaian tahapan manasik sebelum keberangkatan hingga kepulangan ke haji.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini tahapan pelaksanaan ibadah:
1. Persiapan, Miqat, dan Niat Ihram
Rangkaian ibadah haji dimulai dengan mandi sunah, dan mengenakan pakaian ihram di tempat yang telah ditentukan secara geografis (miqat).
Jemaah yang mengambil jalur Haji Tamattu` terlebih dahulu berniat untuk melaksanakan ibadah umrah.
Setelah berihram, jemaah terikat pada larangan-larangan ihram dan disunahkan melafalkan kalimat Talbiyah sepanjang perjalanan menuju Kota Makkah.
2. Tawaf, Sai, dan Tahallul Pertama (Umrah)
Setibanya di Masjidil Haram, Makkah, jemaah melaksanakan Tawaf (mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali putaran) dan dilanjutkan dengan Sai (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah).
Rangkaian umrah ini diakhiri dengan tahallul, yaitu memotong atau mencukur rambut.
Bagi jemaah Tamattu`, setelah tahallul ini mereka terlepas dari larangan ihram untuk sementara waktu sembari menunggu puncak ibadah haji pada bulan Zulhijjah.
3. Berihram Kembali untuk Haji dan Menuju Mina
Pada tanggal 8 Zulhijjah (Hari Tarwiyah), jemaah haji kembali mengenakan pakaian ihram dan melafalkan niat khusus untuk ibadah haji dari maktab atau pemondokan masing-masing.
Jemaah kemudian diberangkatkan menuju Mina untuk bermalam (mabit) dan melakukan persiapan spiritual sebelum memasuki hari puncak haji.
4. Wukuf di Padang Arafah
Tahapan paling krusial yang menentukan keabsahan haji adalah wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah.
Wukuf dimulai sejak tergelincirnya matahari (waktu Zuhur) hingga terbenamnya matahari.
Selama wukuf, jemaah memanfaatkan waktu untuk berzikir, membaca Al-Qur`an, bertaubat, dan memanjatkan doa di dalam tenda maupun di sekitar kawasan Arafah.
5. Bermalam di Muzdalifah dan Pengambilan Batu
Setelah matahari terbenam pada 9 Zulhijjah, jemaah bergerak meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Di tempat ini, jemaah melakukan mabit (bermalam) minimal hingga melewati tengah malam.
Selama berada di Muzdalifah, jemaah juga mengumpulkan batu-batu kerikil yang akan digunakan untuk ritual melontar jumrah di hari berikutnya.
6. Melontar Jumrah dan Mabit di Mina
Pada tanggal 10 Zulhijjah, jemaah bergerak ke Mina untuk melaksanakan melontar Jumrah Aqabah, yang kemudian diikuti dengan prosesi penyembelihan hewan kurban dan tahallul awal.
Selanjutnya, pada hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah), jemaah bermalam di Mina dan melakukan ritual melontar tiga jumrah secara berurutan, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
Jemaah dapat memilih untuk keluar dari Mina pada 12 Zulhijjah (Nafar Awal) atau 13 Zulhijjah (Nafar Tsani).
7. Tawaf Ifadah, Sai Haji, dan Tawaf Wada`
Setelah menyelesaikan seluruh prosesi di Mina, jemaah kembali ke Masjidil Haram di Makkah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah yang merupakan rukun haji, dilanjutkan dengan Sai Haji.
Rangkaian akhir dari seluruh perjalanan suci ini ditutup dengan Tawaf Wada` (tawaf perpisahan) yang dilakukan sesaat sebelum jemaah meninggalkan Kota Makkah.