
Ilustrasi - Hari Radang Usus (IBD) Sedunia setiap 19 Mei, ini sejarahnya (Foto: Dok. Istimewa)
JAKARTA - Setiap tanggal 19 Mei, dunia memperingati World IBD Day atau Hari IBD Sedunia.
Peringatan internasional ini digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau penyakit radang usus kronis, yang mencakup dua kondisi utama yakni penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Kampanye ini juga menjadi momentum untuk memberi dukungan kepada jutaan penderita IBD di berbagai negara.
World IBD Day pertama kali dibentuk pada tahun 2010 dalam agenda Digestive Disease Week di Amerika Serikat.
Sejak saat itu, gerakan ini berkembang menjadi kampanye global yang melibatkan organisasi pasien dan komunitas kesehatan di lebih dari 50 negara di lima benua. Koordinasinya dilakukan oleh organisasi internasional yang fokus pada penyakit Crohn dan kolitis.
Tujuan utama peringatan ini adalah meningkatkan pemahaman publik mengenai IBD yang kerap disebut sebagai “penyakit tak terlihat” atau invisible illness.
Pasalnya, banyak penderita mengalami gejala serius, tetapi kondisinya tidak tampak secara fisik sehingga sering kurang dipahami lingkungan sekitar.
IBD sendiri merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan. Gejalanya dapat berupa diare berulang, nyeri perut, kelelahan, penurunan berat badan, demam, hingga munculnya darah pada feses.
Penyakit ini juga dapat muncul dalam fase kambuh dan mereda secara bergantian. Menurut berbagai laporan kesehatan internasional, jutaan orang di dunia hidup dengan IBD.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, penyakit ini juga memengaruhi aktivitas sehari-hari, kesehatan mental, hingga kualitas hidup penderitanya.
Dalam peringatannya setiap tahun, World IBD Day biasanya diisi berbagai kegiatan seperti kampanye edukasi, seminar kesehatan, diskusi publik, penggalangan dana riset, hingga aksi simbolis menggunakan pita ungu sebagai tanda dukungan bagi para penderita.
Warna ungu dipilih sebagai simbol solidaritas global terhadap komunitas IBD.
Momentum Hari IBD Sedunia juga dimanfaatkan untuk mendorong pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat agar memberikan perhatian lebih terhadap penanganan penyakit ini, termasuk peningkatan akses layanan kesehatan dan penelitian mengenai pengobatan yang lebih efektif.
Peringatan setiap 19 Mei bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga pengingat bahwa di balik penyakit yang sering tak terlihat, ada jutaan orang yang berjuang menjalani kehidupan sehari-hari sambil menghadapi kondisi kronis yang tidak mudah.
Senin, 18/05/2026