
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Foto: Anmar Khalil/AP)
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dikabarkan bertolak ke Pakistan pada Jumat (24/4). Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali putaran kedua negosiasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).
Melalui unggahan di platform X, Araghchi mengonfirmasi bahwa perjalanannya kali ini mencakup Pakistan, Oman, dan Rusia dengan fokus pada urusan bilateral dan perkembangan regional, sebagaimana dikutip dari AP.
Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai apakah mereka juga akan mengirimkan delegasi ke Pakistan untuk menemui perwakilan Iran tersebut.
Upaya Islamabad sebagai mediator menjadi sangat krusial mengingat negosiasi yang dijadwalkan berlangsung pekan ini sempat tertunda.
Pada saat yang sama, Presiden Donald Trump menerbitkan perpanjangan selama 90 hari untuk waiver (pembebasan) aturan Jones Act.
Langkah ini memungkinkan kapal-kapal non-Amerika untuk mengangkut minyak dan gas alam, guna mempermudah logistik energi di tengah situasi perang.
Gedung Putih menyatakan bahwa data terbaru menunjukkan kebijakan ini berhasil mempercepat pasokan energi mencapai pelabuhan-pelabuhan AS pasca penutupan efektif Selat Hormuz.
Kebijakan tersebut pertama kali diberlakukan selama 60 hari pada pertengahan Maret sebagai upaya menstabilkan harga bahan bakar dalam negeri.
Pengumuman perpanjangan waiver ini langsung direspons oleh pasar energi global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun ke kisaran $104 per barel setelah sempat menyentuh angka $107.
Meskipun terjadi penurunan tipis, harga minyak saat ini masih berada di level hampir 50 persen lebih tinggi dibandingkan posisi sebelum perang dimulai pada 28 Februari lalu.