
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SD Negeri 1 Bantul (Foto: Humas Kemendikdasmen)
BANTUL - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SD/MI di Kabupaten Bantul dinilai berjalan sukses berkat perencanaan yang komprehensif.
Melalui skema ujian reguler maupun susulan yang inklusif, asesmen ini diharapkan mampu memperkuat pemetaan mutu pendidikan secara nasional.
Di tingkat sekolah, persiapan sistematis seperti pendataan, sosialisasi wali murid, hingga gladi bersih telah dilakukan.
Kepala SD Negeri Jaranan, Yanuarita Widi Astuti, menegaskan pada Selasa (21/4) bahwa seluruh rangkaian prosedur ini bertujuan agar siswa siap menghadapi ujian, baik secara teknis maupun mental.
“Persiapan kami lakukan mulai dari pendataan siswa melalui Dapodik, sosialisasi kepada orang tua, simulasi, hingga gladi bersih. Kami juga memastikan siswa memahami bahwa TKA bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar,” ujar Yanuarita.
Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan orang tua menjadi kunci dalam membangun pemahaman bersama terkait pelaksanaan TKA.
“Kami berupaya membangun sinergi dengan orang tua agar siswa tidak merasa terbebani, melainkan lebih percaya diri dalam mengikuti TKA,” tambahnya.
Di SD Negeri Jaranan, dari 24 siswa kelas 6 yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan mengikuti pelaksanaan TKA dengan antusias.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 1 Bantul, Parjiyatmi, menyampaikan bahwa pelaksanaan TKA di sekolahnya berjalan dengan baik meskipun masih menghadapi keterbatasan sarana prasarana.
“Kami sampaikan bahwa pada tahun ini kelas VI di SD Negeri 1 Bantul terdiri atas empat rombongan belajar, yaitu kelas A, B, C, dan D, dengan jumlah total 113 siswa, terdiri atas 63 siswa laki-laki dan 50 siswa perempuan. Secara keseluruhan, jumlah peserta didik di SD Negeri 1 Bantul mencapai 701 siswa yang terbagi dalam 25 rombongan belajar. Dalam pelaksanaan TKA, sekolah mengikuti gelombang 1 dengan dua sesi. Pada sesi pertama, ruang satu diikuti oleh 38 siswa dan ruang dua sebanyak 18 siswa. Sementara pada sesi kedua, ruang satu diikuti 38 siswa dan ruang dua sebanyak 19 siswa,” ujar Parjiyatmi.
Ia juga menambahkan bahwa kesiapan siswa tidak hanya difokuskan pada aspek teknis, tetapi juga pada penguatan mental dan spiritual. “Persiapan TKA di sekolah kami tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah.
Kami membiasakan peserta didik untuk melibatkan Tuhan dalam setiap usaha, seperti melalui pembiasaan Salat Tahajud dan Dhuha bagi siswa Muslim.
Selain itu, kami juga telah melaksanakan kegiatan Achievement Motivation Training (AMT) untuk membangun pemahaman dan kedekatan antara siswa dan orang tua. Motivasi, baik intrinsik maupun ekstrinsik, menjadi faktor penting dalam mendukung kesiapan anak,” tambahnya.
Parjiyatmi tak menampik adanya kendala yang dihadapi sekolah terkait keterbatasan ruang dan perangkat. Menurutnya, sarana prasarana masih perlu diperkuat untuk mendukung pembelajaran ke depan.
“Kami masih memiliki keterbatasan ruang dan perangkat teknologi informasi, sehingga membutuhkan dukungan ke depan untuk penguatan sarana pembelajaran,” ungkapnya.
Peran guru turut menjadi faktor penting dalam mendampingi siswa menghadapi TKA. Guru kelas VI SD Negeri 1 Bantul, Bayu, menyampaikan bahwa pengalaman sebelumnya dalam pelaksanaan asesmen berbasis komputer menjadi bekal penting dalam mempersiapkan siswa.
“Kami sudah memiliki pengalaman dari asesmen sebelumnya, sehingga dalam mempersiapkan TKA kami bisa melakukan evaluasi dan pendampingan yang lebih optimal,” ujar Bayu.
Ia juga mengungkapkan adanya tantangan dalam keberagaman kemampuan siswa serta keterbatasan sarana, khususnya perangkat komputer.
“Kami masih memanfaatkan perangkat tambahan dari guru untuk mendukung pelaksanaan. Namun demikian, seluruh proses tetap dapat berjalan dengan baik,” tambahnya.
Dari sisi murid, pelaksanaan TKA disambut dengan antusias. Salah satu siswa SD Negeri Jaranan, Revinta Yuniar Putri, mengaku bahwa pengalaman mengikuti TKA justru terasa menyenangkan.
“TKA itu menyenangkan. Memang ada soal yang sulit, tetapi juga banyak yang bisa dikerjakan. Kami juga belajar bersama teman-teman dan dibantu guru,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa penggunaan media pembelajaran digital membantu meningkatkan pemahaman materi.
“Belajar dengan media digital membuat pelajaran lebih jelas dan lebih menarik, sehingga kami lebih semangat belajar,” tambahnya.
Pelaksanaan TKA di Kabupaten Bantul menunjukkan bahwa kesiapan tidak hanya terletak pada sistem, tetapi juga pada kolaborasi dan semangat seluruh ekosistem pendidikan.
Keterlibatan aktif sekolah, guru, siswa, serta dukungan orang tua menjadi faktor penting dalam memastikan pelaksanaan asesmen berjalan lancar dan memberikan manfaat optimal bagi peningkatan mutu pendidikan.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin menegaskan bahwa antusiasme pendaftar TKA pada tahun 2026 sangat besar.
“Kami menyadari animo masyarakat yang sangat besar dalam mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA), sehingga kami terus berkomitmen bahwa kesiapan layanan akan terus menjadi prioritas," ujar Toni.
Ke depan, sinergi ini diharapkan terus diperkuat untuk mendukung implementasi kebijakan pendidikan yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran di seluruh Indonesia.
Kamis, 23/04/2026