
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB Lalu Hardian Irfani (kanan). Foto: kwp
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menyoroti serius temuan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Universitas Diponegoro.
Ia menyayangkan adanya peserta yang diduga menggunakan alat bantu tersembunyi di telinga saat mengikuti ujian. Menurut Lalu, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan telah menyentuh aspek mendasar dalam dunia pendidikan, yakni integritas.
“Kasus seperti ini sangat memprihatinkan. Penggunaan alat tersembunyi jelas bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga mencederai nilai kejujuran,” ujar Lalu kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/4).
Politikus PKB itu menegaskan bahwa UTBK merupakan pintu awal bagi generasi muda memasuki dunia akademik sekaligus profesional. Karena itu, praktik kecurangan sejak tahap seleksi dinilai berpotensi membentuk karakter yang tidak jujur di masa depan.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semata diukur dari capaian nilai, tetapi juga dari sikap dan integritas pribadi. “Lebih baik gagal dengan jujur daripada berhasil dengan cara curang. Yang diuji bukan hanya kemampuan akademik, tapi juga karakter,” tegasnya.
Selain itu, Lalu juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan UTBK, khususnya dalam hal pengawasan. Ia meminta panitia meningkatkan sistem deteksi dini untuk mencegah praktik serupa terulang.
“Pengawasan harus diperketat. Proses skrining perlu benar-benar memastikan ruang ujian steril dari segala bentuk kecurangan,” katanya.
Sebelumnya, panitia UTBK menemukan dugaan kecurangan yang dilakukan salah satu peserta di kampus Undip. Alat bantu yang ditanam di telinga terdeteksi melalui pemeriksaan menggunakan metal detector sebelum ujian berlangsung.
Peserta tersebut kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk dibawa ke klinik telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak kepolisian setempat untuk proses lebih lanjut.