Lima Perbedaan Puasa Orang Islam dan Yahudi

Vaza Diva | Kamis, 12/03/2026 12:30 WIB


Ibadah puasa sering kali dipandang sebagai identitas khas umat Muslim, terutama saat memasuki bulan suci Ramadhan. Ilustrasi - ini perbedaan antara puasa orang Islam dan Yahudi (Foto: Queenmoonlit3/Envato)

JAKARTA - Ibadah puasa sering kali dipandang sebagai identitas khas umat Muslim, terutama saat memasuki bulan suci Ramadhan.

Namun, secara historis dan teologis, puasa merupakan ibadah lintas zaman yang juga dijalankan oleh umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW, termasuk kaum Yahudi.

Meski memiliki akar yang sama, Islam membawa syariat yang menyempurnakan sekaligus membedakan identitas ibadahnya.

1. Perintah Puasa

Al-Qur`an secara eksplisit menegaskan bahwa puasa bukanlah hal baru. Kewajiban ini merupakan kelanjutan dari perintah Tuhan kepada para nabi terdahulu.

Baca juga :
Baleg DPR Soroti Putusan MK, Hanya BPK yang Berwenang Hitung Kerugian Negara

Tujuannya tetap konsisten sepanjang zaman, yaitu membentuk hamba yang bertakwa.

Baca juga :
Apakah Diperbolehkan Mencuri karena Kelaparan dalam Islam?

Hal ini termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Baca juga :
Waka Baleg DPR: Putusan MK Pertegas Kewenangan BPK Hitung Kerugian Negara

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

2. Kontras Syariat

Perbedaan paling mencolok terletak pada durasi dan teknis pelaksanaan. Umat Islam menjalankan puasa sebulan penuh selama Ramadhan, menahan diri dari fajar hingga maghrib.

Di sisi lain, kaum Yahudi memiliki tradisi puasa Yom Kippur (Hari Penebusan).

Berbeda dengan Islam, puasa Yom Kippur dilakukan selama sekitar 25 jam non-stop, dimulai dari sebelum matahari terbenam hingga munculnya bintang di malam berikutnya.

Selain itu, puasa mereka bersifat periodik pada hari-hari tertentu, bukan dalam satu bulan utuh seperti dalam rukun Islam.

3. Diplomasi Identitas dalam Puasa Asyura

Sejarah mencatat momen penting saat Rasulullah SAW tiba di Madinah. Beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Fir`aun.

Merespons hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda (HR. Bukhari & Muslim):

فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

"Maka aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."

Meskipun Rasulullah SAW mengakui akar sejarah yang sama, beliau tidak ingin umat Islam sekadar meniru tanpa identitas. Beliau memerintahkan agar puasa tersebut dibedakan dengan menambah hari di sebelum atau sesudahnya (9 atau 11 Muharram).

Beliau bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan."

4. Puasa sebagai Sarana Transformasi Diri

Melalui perbandingan sejarah ini, terlihat bahwa Islam hadir bukan untuk menghapus tradisi lama, melainkan untuk memberikan tatanan baru yang lebih sistematis.

Puasa dalam Islam bukan sekadar menahan lapar jasmani, melainkan latihan spiritual total untuk meningkatkan ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT.

Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesadaran akan identitas agamanya yang unik, namun tetap menghargai akar sejarah para nabi sebelumnya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info Keislaman Ibadah Puasa Agama Islam Agama Yahudi