Studi: Kebisingan Lalin di Malam Hari Bisa Picu Gangguan Jantung

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 28/02/2026 22:05 WIB


Kebisingan lalu lintas yang dianggap “normal” di perkotaan ternyata cukup untuk menekan sistem kardiovaskular hanya dalam semalam Ilustrasi lalu lintas

JAKARTA - Kebisingan lalu lintas yang dianggap “normal” di perkotaan ternyata cukup untuk menekan sistem kardiovaskular hanya dalam semalam. Studi terbaru menemukan paparan suara kendaraan saat tidur memicu penurunan fungsi pembuluh darah, peningkatan denyut jantung, dan kualitas tidur yang lebih buruk pada orang dewasa sehat.

Penelitian ini dilakukan tim dari University Medical Center Mainz di bawah naungan Johannes Gutenberg University Mainz dan dipublikasikan di jurnal Cardiovascular Research. Desainnya acak, tersamar ganda, dan crossover, standar untuk meminimalkan bias, dengan melibatkan 74 partisipan sehat.

Selama tiga malam berbeda, peserta tidur tanpa kebisingan tambahan, dengan 30 kejadian suara lalu lintas, dan dengan 60 kejadian suara. Setiap paparan memuncak di sekitar 60 desibel, atau setara percakapan normal, namun diperdengarkan berulang di kamar tidur sepanjang malam.

Dikutip dari Earth, hasilnya konsisten dan terukur. Fungsi pelebaran pembuluh darah yang dinilai melalui flow-mediated dilation turun dari 9,35 persen pada malam tenang menjadi 8,19 persen setelah 30 kejadian, dan 7,73 persen setelah 60 kejadian.

Baca juga :
Baleg DPR Soroti Putusan MK, Hanya BPK yang Berwenang Hitung Kerugian Negara

Denyut jantung rata-rata juga naik sekitar 1,23 detak per menit setelah malam bising. Kenaikan ini tampak kecil, tetapi berpotensi bermakna jika terjadi berulang selama bertahun-tahun.

Baca juga :
Apakah Diperbolehkan Mencuri karena Kelaparan dalam Islam?

“Bahkan satu malam kebisingan lalu lintas sudah menekan sistem kardiovaskular,” kata peneliti utama Omar Hahad dikutip Earth. Ia menambahkan bahwa perubahan biologis yang konsisten pada tingkat kebisingan yang lazim di dekat jalan raya cukup mengejutkan.

Analisis darah menunjukkan perubahan jalur biologis yang terkait stres dan peradangan, termasuk sinyal interleukin dan kemotaksis. Ko-penulis Andreas Daiber menyebut temuan ini selaras dengan studi praklinis pada hewan, sehingga memberi dasar mekanistik bagaimana kebisingan memicu respons stres pada manusia.

Baca juga :
Waka Baleg DPR: Putusan MK Pertegas Kewenangan BPK Hitung Kerugian Negara

Temuan ini menjembatani bukti epidemiologis yang selama ini mengaitkan paparan kebisingan kronis dengan hipertensi dan penyakit jantung iskemik. Studi ini memang jangka pendek pada orang muda sehat, tetapi menunjukkan mekanisme biologis yang masuk akal bila paparan terjadi malam demi malam atau secara berulang.

Para peneliti menilai kebisingan transportasi perlu dipandang sebagai faktor risiko kardiovaskular non-tradisional. Perlindungan tidur, seperti melalui perencanaan kota yang lebih baik, pembatasan lalu lintas malam hari, permukaan jalan yang lebih senyap, dan insulasi bangunan, dinilai krusial untuk kesehatan jantung warga kota.

Di tingkat individu, memindahkan kamar tidur menjauh dari jalan, menggunakan jendela berinsulasi baik, atau penutup telinga dapat mengurangi paparan. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa “bahkan saat tidur, tubuh tetap mendengar,” dan paparan berulang dapat mengakumulasi risiko dalam jangka panjang. (*)

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Kebisingan Lalu Lintas Risiko Stres Gangguan Jantung Sistem Kardiovaskular