Ini Amal Perbuatan Pertama yang Dihisab pada Hari Kiamat

Vaza Diva | Selasa, 24/02/2026 16:30 WIB


Hari kiamat merupakan saat setiap manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di hadapan Allah SWT. Ilustrasi - sujud saat melaksanakan sholat (Foto: Dompet Quran)

JAKARTA - Hari kiamat merupakan saat setiap manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di hadapan Allah SWT. Tidak ada kebaikan maupun keburukan sekecil apa pun yang terlewat dari perhitungan.

Dalam banyak dalil syariat disebutkan bahwa amalan pertama yang akan diperiksa adalah shalat. Baiknya shalat menjadi tanda baiknya seluruh amal, sedangkan rusaknya shalat dapat menyeret amalan lain kepada kerugian.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلاَةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baik seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Baca juga :
Menko PM Ajak Puluhan Media Homeless Perkuat Kolaborasi untuk Pemberdayaan

Hadis tersebut menunjukkan betapa tingginya kedudukan shalat dalam Islam. Ia bukan sekadar kewajiban harian, tetapi juga menjadi pembeda antara keimanan dan kelalaian seorang hamba.

Baca juga :
Wanti-wanti Legislator PDIP soal Pelaksanaan Haji di Tengah Konflik Timteng

Al-Qur`an juga menegaskan pentingnya kualitas shalat. Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Baca juga :
MPR Gandeng UII Dorong Penguatan Kajian Konstitusi dan Sosialisasi Empat Pilar

Ayat tersebut menekankan bahwa keberuntungan seorang mukmin tidak hanya diukur dari banyaknya amal, tetapi dari kekhusyukan dan kesungguhan dalam shalatnya.

Shalat hakikatnya adalah komunikasi langsung antara hamba dan Rabb-nya. Lima waktu yang diwajibkan setiap hari menjadi sarana pembersih dosa dan penguat iman. Rasulullah SAW mengibaratkannya dengan sabdanya:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الخَطَايَا
“Bagaimana pendapat kalian jika di depan rumah salah seorang di antara kalian terdapat sungai lalu ia mandi di dalamnya lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran padanya?” Mereka menjawab, ‘Tidak ada sedikit pun kotoran tersisa.’ Beliau bersabda, ‘Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengannya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, memperbaiki shalat berarti memperkuat fondasi kehidupan seorang muslim. Menjaga waktu pelaksanaannya, menyempurnakan wudhu, menghadirkan hati, serta mengikuti tuntunan Nabi SAW menjadi jalan agar shalat diterima di sisi Allah.

Pesan yang dapat diambil adalah keberhasilan di akhirat dimulai dari kesungguhan menjaga shalat hari ini. Jika menginginkan hisab yang ringan dan keselamatan pada hari kemudian, maka perhatikanlah shalat sejak sekarang, sebab dari ibadah inilah seluruh amal akan dinilai oleh Allah SWT.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info Keislaman Hari Kiamat Amal Perbuatan Allah SWT Rasulullah SAW