Bulan Muharram Sering Disebut Bulan Suro, Apa Alasannya?

M. Habib Saifullah | Sabtu, 28/06/2025 02:05 WIB


Nama `Suro` dalam bahasa Jawa berasal dari pelafalan kata Arab Asyura (عاشوراء), hari kesepuluh Muharram yang sejak ribuan tahun lalu dikenal penting karena berbagai peristiwa besar Pawai obor dalam rangka menyambut tahun baru Islam (Foto: ANTARA)

Jakarta, Katakini.com - Bulan Muharram dalam kalender Islam bukan hanya penanda awal tahun baru Hijriah, tetapi juga dianggap sebagai bulan yang suci dan penuh keberkahan.

Di Pulau Jawa, bulan ini dikenali dengan sebutan bulan Suro, sebuah istilah yang sarat makna budaya dan spiritual. Meski berkaitan erat, makna `Suro` dalam tradisi Jawa tidak sepenuhnya identik dengan perspektif Islam, melainkan juga dipengaruhi oleh warisan lokal yang berakar dari kosmologi dan ritual adat.

Melansir dari berbagai sumber, Nama `Suro` dalam bahasa Jawa berasal dari pelafalan kata Arab Asyura (عاشوراء), hari kesepuluh Muharram yang sejak ribuan tahun lalu dikenal penting karena berbagai peristiwa besar, seperti keselamatan Nabi Musa dari Firaun dan tragedi karbala Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.

Sejalan itu, orang Jawa menamai bulan pertama dalam kalender Jawa-Islam dengan `Suro` sebagai bentuk asimilasi budaya, lalu tahun 1633 Sultan Agung Hanyokrokusumo secara resmi mengintegrasikan penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah, menjadikan 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram.

Baca juga :
Menko PM Ajak Puluhan Media Homeless Perkuat Kolaborasi untuk Pemberdayaan

Dalam kosmologi Jawa, bulan Suro dipandang sebagai periode `keramat` ketika sinergi antara dunia manusia dan alam gaib paling kuat. Konon, pintu gaib terbuka lebar di malam 1 Suro, sehingga muncul mitos larangan bepergian atau mengadakan hajatan besar demi menghindari kesialan.

Baca juga :
Wanti-wanti Legislator PDIP soal Pelaksanaan Haji di Tengah Konflik Timteng

Keyakinan seperti ini muncul dari tradisi Kejawen yang memandang malam itu sebagai saat tepat untuk introspeksi, tolak bala, dan menyucikan diri baik secara lahiriah maupun batin.

Ritual malam Satu Suro melibatkan banyak aktivitas spiritual seperti tirakatan, tapa bisu, ziarah ke makam leluhur, hingga penyucian pusaka keraton, termasuk prosesi jamasan pusaka dan kirab pusaka di Yogyakarta dan Solo.

Baca juga :
MPR Gandeng UII Dorong Penguatan Kajian Konstitusi dan Sosialisasi Empat Pilar

Semua ini dilakukan untuk meminta perlindungan dari kekuatan gaib dan memohon keselarasan dalam memasuki tahun baru penanggalan Jawa.

Masyarakat juga mempercayai bahwa bulan Suro adalah waktu terbaik untuk melakukan refleksi diri dan muhasabah. Tradisi seperti “puasa mutih” (hanya makan nasi putih) dan meditasi di tempat sakral (tapa kungkum) dilakukan sebagai bentuk jarak diri dari urusan duniawi, guna memulai tahun baru dengan hati yang bersih.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Suro Muharram Jawa Tahun Baru Islam