Mencapai Net Zero Emission, Pohon Demi Pohon (1)

| Rabu, 15/05/2024 14:17 WIB


Mencapai Net Zero Emission, Pohon Demi Pohon (1) Ilustrasi

JAKARTA - Satu dolar satu pohon, atau “$1 = 1 tree” adalah jargon yang digadang-gadang oleh youtuber muda bernama Jimmy, yang akrab disapab MrBeast. Dia berkampanye besar-besaran untuk menanam 20 juta pohon sebagai bentuk perayaan pencapaian 20 juta subscriber pada channel Youtube miliknya.

“Generasi kita sering diejek sebagai aktivis twitter, namun sebenarnya tidak pernah benar benar melakukan sesuatu” ujar pemuda berkelahiran 1998 itu di salah satu video yang diunggahnya dalam platform Youtube.

Berangkat dari situ, ia dan rekan-rekannya memulai kampanye penggalangan dana yang ia namai dengan “#teamtrees” dengan target mengumpulkan donasi dari para fansnya sebanyak 20 juta Dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 300 miliar, dimana uang tersebut akan digunakan untuk membiayai program penanaman 20 juta pohon. Dan
ternyata tak butuh waktu lama, kini penggalangan dana tersebut tercatat telah berhasil mengumpulkan lebih dari 24 juta Dolar Amerika Serikat, yang berarti paling tidak 24 juta pohon telah berhasil ditanam berkat program penggalangan dana ini.

Prestasi fantastis ini tak bisa dipandang sebelah mata. Karena walaupun sekadar menanam pohon memang terlihat biasa dan sederhana, namun kenyataannya hal ini merupakan kunci dan pijakan pondasi utama, dalam mencapai impian besar dunia, yaitu Net Zero Emission.

Baca juga :
Allano Jadi MVP Lawan Persebaya, Sebut Ini Hasil Kerja Keras Seluruh Tim

Sebelum kita berselancar lebih jauh, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dengan impian besar ini, yaitu Net Zero Emission. Sederhananya, Net Zero Emission adalah sebuah rencana dan komitmen terstruktur yang telah disepakati dan disusun oleh para
pemimpin dunia, yang menargetkan pemotongan emisi gas rumah kaca menjadi sekecil mungkin. Dengan demikian akan tercapai keseimbangan antara emisi gas yang masuk ke atmosfer dan yang diserap kembali keluar dari atmosfer menuju bumi oleh hutan-hutan dan lautan.

Baca juga :
Baleg DPR Soroti Putusan MK, Hanya BPK yang Berwenang Hitung Kerugian Negara

Pada 12 Desember 2015 silam, 196 negara anggota PBB, mengadakan konferensi di Paris, Perancis guna membicarakan isu-isu iklim yang sedang marak terjadi di dunia. Konferensi itu menghasilkan suatu perjanjian yang disebut dengan The Paris Agreement. Perjanjian ini merupakan hukum internasional yang mengikat dalam masalah-masalah iklim. Berlaku sejak 4 November 2016, negara-negara dunia kini saling berkolaborasi untuk mencapai peningkatan suhu dunia yang stabil, dan emisi gas rumah kaca yang seimbang, dengan target mencapai net zero pada 2050.

Sekarang kita telah mengenal Net Zero itu sendiri, tetapi pertanyaannya  mengapa kita harus merealisasikan net zero? Apakah perjuangan untuk mencapai net zero benar-benar sepadan dengan hasil yang didapatkan nanti?

Baca juga :
Apakah Diperbolehkan Mencuri karena Kelaparan dalam Islam?

Mari kita coba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan data-data yang tersedia. Tercatat bahwasanya terdapat 750 miliar ton es yang mencair setiap tahunnya.

Hal itu berarti terdapat 24.000 ton air lelehan es yang menambah volume air laut setiap detiknya. Bahkan detik inipun saat anda membaca tulisan ini, terdapat air seberat 24.000 ton atau yang setara dengan 10 kolam renang olympic sedang meleleh dari es-es di kutub dan meningkatkan level permukaan air laut.

Tak berhenti di situ saja, hanya dalam kurun waktu 55 tahun saja, sejak 1961 sampai dengan 2016, tercatat total 9 triliun ton es telah meleleh dari permukaan bumi. Bahkan pada tanggal 1 Agustus 2019, 12,5 miliar ton es telah meleleh di Greenland hanya dalam waktu satu hari.

Angka-angka fantastis tersebut menunjukkan betapa gentingnya kondisi dunia pada saat ini. Pemanasan global yang kian tak terbendung merupakan penyebab utama atas ketidakseimbangan yang marak terjadi di muka bumi. Bahkan tahun 2023 tercatat menjadi tahun terhangat sejak tahun 1850.

Lantas kita bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan pemanasan global ini? Siapa dalang dari semua kekacauan alam ini? Maka, sejatinya sang penanya adalah jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Tanpa kita sadari, aktivitas kita sebagai manusia telah menjadi pemicu utama dari pemanasan global yang tak teratur. Mulai dari skala kecil, seperti gas metana yang dikeluarkan dari sampah rumah tangga, hingga skala besar seperti jutaan gas karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer sebagai hasil dari pembakaran bahan bakar fosil.

Maka dari itu, setiap dari kita sebagai manusia, memiliki tanggung jawab yang besar untuk bisa menanggulangi dan meminimalisir dampak dari pemanasan global.Kita berada dalam kondisi yang terdesak. Kita butuh solusi segera.

Beruntungnya, solusi itu sudah ada di depan mata, Mencapai Net Zero Emission adalah solusi yang sangat kita butuhkan. Akan tetapi, bukankah Net Zero Emission adalah suatu rencana besar, yang sepertinya hanya bisa dilakukan oleh pemerintah dan para pengusaha besar?

Ternyata tidak begitu, justru karena Net Zero Emission adalah sebuah rencana yang amat besar, maka tak cukup jika kita hanya bergantung kepada pemerintah dan konglomerat. Untuk mencapai Net Zero Emission dibutuhkan kolaborasi dari setiap lini masyarakat dunia, di dalamnya termasuk kita, saya dan anda.
Tak perlu jauh-jauh. Sembari menikmati terpaan angin kecil sepoi-sepoi, coba p omerhatikan sekeliling kita. Di taman-taman kota, di pojok kebun belakang rumah.

(Penulis: Laksana Aura Ibrahim, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer/FILKOM Universitas Brawijaya Malang)

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Net Zero Emission pohon