INDEF: Perlu Studi Sosiologi untuk Optimalkan Potensi Ekonomi Syariah

Aliyudin Sofyan | Jum'at, 05/04/2024 01:07 WIB


Terdapat perbedaan pendekatan dalam pemasaran produk-produk keuangan syariah kepada beberapa kelompok masyarakat di Indonesia. Ilustrasi ekonomi syariah. Foto: unair

JAKARTA – Studi sosiologi dan antropologi terkait keuangan syariah perlu ditingkatkan untuk melihat perilaku konsumen dan segmentasi pasar dengan lebih baik demi mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi syariah.

Demikian disampaikan Direktur Riset INDEF Berly Martawardaya dalam diskusi daring yang digelar INDEF, Kamis (4/4/2024).

Ia mengatakan bahwa terdapat perbedaan pendekatan dalam pemasaran produk-produk keuangan syariah kepada beberapa kelompok masyarakat di Indonesia, yang oleh antropolog Amerika Serikat Clifford Geertz diklasifikasikan menjadi kelompok santri, abangan, dan priayi.

“Di Indonesia kita klasifikasi utamanya tidak berdasarkan etnis dan agama, tapi spektrum, namanya nasionalis dan islamis. Jadi kalau titelnya (nama banknya) sangat Islamis itu produk-produknya juga ya mudharabah, musyarakah, murabahah, semacam itu,” ujar Berly Martawardaya.

Baca juga :
Menko PM Ajak Puluhan Media Homeless Perkuat Kolaborasi untuk Pemberdayaan

Menurutnya, dahulu kelompok priayi dan abangan tidak familier dan kurang nyaman menggunakan produk-produk dengan jenama berbahasa Arab sehingga bank syariah pertama yang muncul di Indonesia pun memilih untuk menggunakan nama berbahasa Arab yang sudah akrab di telinga masyarakat.

Baca juga :
Wanti-wanti Legislator PDIP soal Pelaksanaan Haji di Tengah Konflik Timteng

Ia juga menemukan bahwa sebagian besar bank yang masuk dalam Best Islamic Financial Institution menurut media keuangan asal Inggris, The Banker, tidak menggunakan nama-nama Islami maupun istilah “syariah”.

Misalnya, Arab National Bank dan Saudi National Bank dari Arab Saudi, National Bank of Kuwait dan Kuwait Finance House dari Kuwait, serta Maybank dari Malaysia.

Baca juga :
MPR Gandeng UII Dorong Penguatan Kajian Konstitusi dan Sosialisasi Empat Pilar

Berly menuturkan bahwa penyematan kata “syariah” pada banyak bank-bank di Indonesia saat ini cenderung bertujuan untuk menarik minat calon nasabah dari kelompok yang diklasifikasikan sebagai santri tersebut.

Sementara itu, pendekatan terhadap masyarakat umum yang bukan berasal dari kelompok santri tersebut kini dilakukan melalui konsep “hijrah”.

“Tentu pendekatan ini hanya mempan untuk yang sudah punya roots atau nilai Islam yang kuat, tapi kalau yang belum itu justru akan backfire (menjadi bumerang). Jadi ini yang perlu disiapkan karena belum banyak studi sosiologi dan antropologi terhadap keuangan syariah,” ucapnya seperti dilansir antaranews.com.

Berly pun menyarankan pelaku industri keuangan syariah untuk tidak menggunakan satu strategi pemasaran yang sama bagi seluruh kelompok masyarakat mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang amat majemuk.

Ia mengatakan perlu adanya segmentasi yang detail dan narasi yang berbeda untuk segmen-segmen calon nasabah yang berbeda pula sehingga perbankan maupun sektor riil syariah nasional dapat semakin maju.

“Segmentasi dan targeting penting ya, jadi strategi marketing dan strategi ekspansi tidak boleh one size fits all,” katanya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Ekonomi Syariah INDEF