• News

China: Kunjungan Trump Sepakati Stabilitas Strategis Baru dengan AS

M. Habib Saifullah | Jum'at, 15/05/2026 17:01 WIB
China: Kunjungan Trump Sepakati Stabilitas Strategis Baru dengan AS Presiden AS Donald Trump berpartisipasi dalam upacara penyambutan bersama Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat pada Kamis (Foto: Mark Schiefelbein/AP Photo)

BEIJING - Kementerian Luar Negeri China menggambarkan kunjungan kenegaraan Trump ke Beijing sebagai momen bersejarah dalam hubungan bilateral kedua negara, serta menyatakan bahwa kedua pemimpin telah mencapai "serangkaian kesepahaman bersama yang baru".

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di platform X, kementerian tersebut menyatakan bahwa Xi dan Trump telah menyepakati visi baru untuk membangun hubungan China-AS yang konstruktif.

Selain itu kesepakatan terbsebut memiliki stabilitas strategis yang akan menjadi panduan hubungan kedua negara selama tiga tahun ke depan dan seterusnya.

Melansir Aljazeera, China juga menambahkan bahwa interaksi antara kedua presiden telah "meningkatkan saling pengertian, memperdalam rasa saling percaya, serta memajukan kerja sama praktis," sembari menyebut bahwa pertemuan puncak ini telah "menyuntikkan stabilitas dan kepastian yang sangat dibutuhkan oleh dunia".

Selain itu, kedua belah pihak sepakat untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi mengenai isu-isu internasional maupun regional, serta menangani perhatian bersama "dengan cara yang tepat," ungkap kementerian tersebut.

Diberitakan sebelumnya bahwa Presiden China Xi Jinping disebut menyatakan minatnya untuk meningkatkan pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) guna mengurangi ketergantungan negaranya pada jalur pelayaran Selat Hormuz yang kini tengah dilanda konflik.

Berdasarkan laporan resmi Gedung Putih pada Kamis (14/5), keinginan ini disampaikan Xi dalam pertemuan puncaknya dengan Presiden Donald Trump di Beijing.

Selain membahas energi, kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi kelancaran pasokan energi dunia, serta menolak keras segala bentuk militerisasi maupun pengenaan biaya tol di jalur air tersebut.

Meskipun laporan Gedung Putih menonjolkan isu minyak, ringkasan resmi dari media pemerintah China tidak menyebutkan poin pembelian energi tersebut. China tercatat belum mengimpor minyak AS sama sekali sejak Mei 2025 akibat pengenaan tarif sebesar 20 persen selama perang dagang berlangsung.