• Oase

Ini Sejarah Haji dan Kisah Siti Hajar di Tanah Suci

Vaza Diva | Senin, 11/05/2026 12:05 WIB
Ini Sejarah Haji dan Kisah Siti Hajar di Tanah Suci Ilustrasi - umat muslim sedang melaksanakan ibadah Haji (Foto: REUTERS)

JAKARTA - Ibadah haji yang dijalankan umat Islam saat ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perjuangan Ibrahim AS dan keluarganya.

Hampir seluruh rangkaian manasik haji memiliki kaitan erat dengan ketakwaan, pengorbanan, dan ketaatan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, serta Nabi Ismail AS kepada Allah SWT.

Awal mula sejarah tersebut dimulai ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah Allah SWT untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, bersama putranya Ismail di sebuah lembah tandus yang kemudian dikenal sebagai Makkah.

Meski berada di tempat yang gersang dan minim kehidupan, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah itu dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT.

Doa beliau diabadikan dalam Al-Qur`an:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati agar mereka melaksanakan salat.” (QS. Ibrahim: 37)

Di tempat itulah perjuangan Siti Hajar dimulai. Demi mencari air untuk putranya, ia berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah.

Perjuangan penuh kesabaran itu kemudian diabadikan dalam syariat sa`i yang kini menjadi salah satu rukun haji dan umrah.

Atas izin Allah SWT, muncullah air Zamzam dari dekat kaki Nabi Ismail AS. Mata air tersebut menjadi awal kehidupan dan berkembangnya peradaban di Tanah Suci Makkah hingga sekarang.

Beberapa tahun kemudian, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS bersama Ismail untuk membangun kembali Kakbah sebagai pusat ibadah tauhid bagi umat manusia.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ

“Dan ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.”
(QS. Al-Baqarah: 127)

Setelah Kabah selesai dibangun, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyeru manusia agar datang berhaji ke Baitullah.

Seruan itu terus menggema hingga kini dan dipenuhi jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia setiap tahun.

Prosesi haji lainnya seperti melempar jumrah juga memiliki sejarah tersendiri. Ibadah tersebut melambangkan perlawanan Nabi Ibrahim terhadap godaan setan yang berusaha menggagalkan ketaatannya kepada Allah SWT.

Sementara itu, wukuf di Arafah menjadi momentum penting bagi jamaah untuk bermuhasabah, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Momen ini sering dimaknai sebagai bentuk perenungan spiritual dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam agar mengikuti tata cara ibadah haji sebagaimana yang dicontohkan beliau, yang juga bersumber dari warisan Nabi Ibrahim AS.

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian.” (HR. Muslim)

Selain itu, ibadah kurban yang dilakukan saat Iduladha juga berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan menyembelih putranya, Ismail AS, sebagai bentuk ujian keimanan dan kepatuhan kepada Allah SWT.