Ilustrasi - ini cara menghadapi teman dekat yang berkhianat kepada kita menurut Al-Qur`an dan hadis Nabi Muhammad SAW (Foto: Unsplash/Majid Pogung Dalangan)
JAKARTA - Pengkhianatan dari seorang teman dekat sering kali meninggalkan luka yang mendalam.
Rasa kecewa, marah, dan sedih dapat bercampur menjadi satu ketika kepercayaan yang selama ini dijaga justru dihancurkan oleh orang yang dianggap paling dekat.
Meski demikian, Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi setiap ujian dengan kesabaran dan pengendalian diri.
Seorang Muslim tidak dianjurkan membalas keburukan dengan keburukan yang sama, karena akhlak mulia tetap harus dijaga dalam keadaan apa pun.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menerima bahwa setiap peristiwa terjadi atas kehendak Allah SWT.
Ujian dalam hubungan pertemanan bisa menjadi cara Allah untuk menguatkan hati dan mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (QS. Asy-Syura: 43)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kesabaran dan memaafkan merupakan sikap yang sangat dianjurkan dalam Islam, termasuk ketika menghadapi pengkhianatan dari orang terdekat.
Saat emosi sedang memuncak, seseorang dianjurkan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan atau meluapkan kemarahan.
Sebab, kemarahan yang tidak terkendali sering kali mendorong seseorang melakukan hal yang justru disesali di kemudian hari.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam juga mengingatkan bahwa pengkhianatan termasuk sifat tercela yang harus dijauhi.
Namun demikian, seseorang tetap diperintahkan menjaga lisannya dan tidak membuka aib orang lain meskipun dirinya telah disakiti.
Menjaga kehormatan sesama Muslim memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. Dalam hadis disebutkan:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Karena itu, membalas pengkhianatan dengan menyebarkan keburukan atau rahasia teman bukanlah sikap yang diajarkan dalam Islam.
Peristiwa seperti ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Rasa kecewa yang muncul sebaiknya diarahkan menjadi motivasi untuk memperkuat ibadah dan memperbaiki kualitas hati.
Jika masih memungkinkan, Islam menganjurkan untuk memberikan nasihat atau teguran secara baik-baik dan tidak mempermalukan orang tersebut di depan umum.
Namun apabila hubungan tersebut justru membawa dampak buruk bagi keimanan dan kesehatan mental, menjaga jarak diperbolehkan demi kebaikan diri sendiri.
Seorang Muslim juga dianjurkan untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati terlalu lama. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi membebaskan diri dari beban dendam yang dapat merusak ketenangan jiwa.
Pada akhirnya, segala urusan balasan diserahkan kepada Allah SWT. Dia Maha Mengetahui setiap luka, pengkhianatan, dan kezaliman yang dialami hamba-Nya.