Ilustrasi - ini cara dan adab memberikan nasihat agar tidak menyakiti hatinya (Foto: REUTERS)
JAKARTA - Memberikan nasihat kepada sahabat merupakan bagian dari kepedulian dan kasih sayang dalam ajaran Islam.
Menasihati bukan berarti merasa lebih suci atau lebih baik, melainkan bentuk perhatian agar sesama Muslim tetap berada di jalan yang benar.
Namun, dalam menyampaikan nasihat, Islam mengajarkan pentingnya adab dan kelembutan agar pesan yang diberikan dapat diterima dengan hati yang lapang.
Sebab, nasihat yang disampaikan dengan cara kasar justru bisa melukai perasaan dan merusak persahabatan.
Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum menasihati adalah meluruskan niat hanya karena Allah SWT, bukan untuk mempermalukan atau menunjukkan kesalahan orang lain.
Nasihat yang lahir dari ketulusan akan terasa lebih menenangkan dan mudah diterima.
Selain itu, memilih waktu yang tepat juga sangat penting. Menasihati ketika seseorang sedang emosi atau berada dalam tekanan sering kali membuat pesan sulit diterima.
Karena itu, suasana yang tenang dan nyaman menjadi momen terbaik untuk menyampaikan kebaikan.
Islam juga mengajarkan agar tidak menegur seseorang di depan banyak orang. Menjaga kehormatan saudara sesama Muslim merupakan bagian dari akhlak mulia.
Imam Syafi’i pernah berpesan bahwa nasihat yang disampaikan secara terbuka dapat berubah menjadi bentuk penghinaan.
Dalam menyampaikan nasihat, gunakanlah kata-kata yang lembut dan penuh hikmah.
Allah SWT berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa dakwah dan nasihat seharusnya dilakukan dengan cara yang santun, bukan dengan kemarahan atau sikap merendahkan.
Saat menasihati, seseorang juga perlu menyadari bahwa dirinya pun tidak luput dari kesalahan. Dengan demikian, nasihat akan terasa lebih tulus dan tidak terkesan menghakimi.
Fokus utama sebaiknya diarahkan pada perbuatan yang perlu diperbaiki, bukan menyerang karakter pribadi sahabat.
Menyampaikan nasihat secara pribadi atau empat mata juga lebih dianjurkan karena dapat menjaga aib dan harga diri seseorang.
Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan sesama Muslim dan melarang membuka keburukan orang lain di hadapan publik.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan pentingnya saling menasihati dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam hadis disebutkan:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menggambarkan bahwa saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan bagian penting dalam ajaran Islam.
Jika nasihat yang diberikan belum diterima, maka sikap terbaik adalah bersabar dan tetap mendoakan kebaikan bagi sahabat tersebut.
Hidayah adalah hak Allah SWT, sehingga tidak perlu memaksakan kehendak atau terus menyalahkan.
Islam juga melarang seseorang sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Menjaga kehormatan saudara seiman jauh lebih utama dibanding membuka aib yang tersembunyi.
Menutup nasihat dengan sikap hangat, senyuman, atau pelukan persahabatan dapat mempererat hubungan dan menunjukkan bahwa nasihat tersebut lahir dari rasa sayang, bukan kebencian.