• Gaya Hidup

Sejarah Hari Ini, Dunia Nyaris Hadapi Bencana Nuklir Terbesar dalam Sejarah

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 26/04/2026 09:06 WIB
Sejarah Hari Ini, Dunia Nyaris Hadapi Bencana Nuklir Terbesar dalam Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl tiga hari setelah mengalami pelelehan sebagian (Foto: Via Live Science)

JAKARTA - Pada 26 April 1986, dunia nyaris menghadapi bencana nuklir terbesar dalam sejarah ketika reaktor di Chernobyl Nuclear Power Plant meledak saat uji coba. Namun, skala sebenarnya dari insiden ini baru terungkap beberapa minggu kemudian setelah radiasi terdeteksi di berbagai wilayah Eropa.

Peristiwa itu bermula dari uji coba yang dilakukan operator untuk mengetahui apakah turbin masih dapat menjaga sirkulasi pendingin saat listrik padam. Alih-alih berjalan sesuai rencana, serangkaian kesalahan teknis dan pelanggaran prosedur justru memicu reaksi berantai yang tak terkendali.

Dikutip dari Live Science, reaktor nomor 4 yang seharusnya dimatikan untuk perawatan tetap dijalankan pada setengah daya selama berjam-jam, menyebabkan ketidakstabilan sistem. Ketika uji coba dilanjutkan oleh tim malam yang kurang berpengalaman, daya reaktor justru turun drastis dan sulit dikendalikan.

Operator kemudian mencoba menaikkan daya dengan mencabut hampir seluruh batang kendali, yang justru memperparah kondisi. Lonjakan daya ekstrem terjadi hingga 100 kali lipat dari normal, sebelum akhirnya dua ledakan besar terjadi pada pukul 01.23 dini hari.

Ledakan tersebut menghancurkan atap bangunan dan menyemburkan material radioaktif ke atmosfer, memicu kebakaran hebat serta menyebabkan inti reaktor mengalami pelelehan sebagian. Dampaknya langsung terasa, dengan dua pekerja tewas di lokasi dan ratusan ribu warga harus dievakuasi dari wilayah sekitar.

Paparan zat radioaktif seperti yodium, cesium, dan stronsium memicu peningkatan penyakit, termasuk kanker tiroid pada anak-anak di wilayah terdampak. Meski begitu, laporan United Nations tahun 2000 menyebut “tidak ada peningkatan signifikan dalam angka kematian kanker secara keseluruhan,” meskipun efek jangka panjang tetap menjadi perhatian.

Uni Soviet sempat menutup-nutupi insiden ini, namun peningkatan radiasi akhirnya terdeteksi di kawasan Skandinavia. Peristiwa ini pun menjadi sorotan global dan membuka tabir kelemahan sistem keselamatan nuklir saat itu.

Para ahli kemudian mengidentifikasi akar masalah utama, yakni cacat desain pada reaktor tipe RBMK yang digunakan di Chernobyl. Sistem ini menggunakan grafit sebagai moderator, yang justru mempercepat reaksi saat uap terbentuk dan menciptakan efek berantai yang berbahaya.

Selain itu, ujung batang kendali yang mengandung grafit justru mempercepat reaksi saat dimasukkan, bertolak belakang dengan fungsi utamanya untuk menstabilkan reaktor. Kombinasi desain yang cacat dan kesalahan manusia menjadi faktor kunci terjadinya bencana ini.

Kini, zona eksklusi seluas ribuan kilometer persegi di sekitar Chernobyl menjadi salah satu wilayah paling radioaktif di dunia. Meski berbahaya bagi manusia, kawasan ini berubah menjadi laboratorium alami untuk mempelajari dampak radiasi terhadap lingkungan dan evolusi makhluk hidup.

Tragedi Chernobyl menjadi pengingat bahwa teknologi energi nuklir membutuhkan standar keselamatan yang sangat tinggi. Kesalahan kecil dalam sistem yang kompleks dapat berujung pada konsekuensi global yang nyaris tak terbayangkan.