Mantan Ketua PBNU Nilai Gagasan Gus Yahya Tidak Cerminkan Organisasi yang Sehat

Asrul | Minggu, 19/12/2021 17:02 WIB


Banyak contoh bisa kita jadikan pelajaran. Organisasi yang perjalannya berburu kerjasama dengan pihak di luar organisasi, kepengurusannya akan diwarnai konflik. KH. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. (Foto: Dok. Ist)

Jakarta - Mantan Ketua PBNU/" style="text-decoration:none;color: #228239;font-weight: 700;">PBNU di masa kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi, Andi Jamaro Dulung, mengkritik gagasan yang diusung KH. Yahya Cholil Staquf dalam pencalonannya di Muktamar NU ke -34. Pria yang juga tercatat sebagai politisi PKB itu menilai, gagasan Gus Yahya, sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf, tidak mencerminkan sebuah organisasi yang sehat.

Sebagaimana diketahui dalam wawancaranya dengan TVNU terkait gagasan kandidat Ketua Umum PBNU/" style="text-decoration:none;color: #228239;font-weight: 700;">PBNU, Gus Yahya berencana menjadikan PBNU/" style="text-decoration:none;color: #228239;font-weight: 700;">PBNU sebagai induk yang bertugas mencarikan program kerja yang eksekusi pelaksanaannya ada di tingkat cabang.

Langkah ini disebutkan untuk menjadikan komunikasi antara PB dan PC berjalan baik, karena ada kepentingan kontrol pelaksanaan program.

"Itu bukan cara yang tepat, karena organisasi yang sehat bukanlah yang selalu menyuapi cabangnya," kata Andi di Jakarta, Minggu (19/12).

Baca juga :
Baleg DPR Akan Panggil Sejumlah Pihak Bahas Putusan MK Soal Kerugian Negara

Wakil Ketua Umum IKA PMII ini juga mengatakan, sebuah organisasi yang sehat tergambar dari kemampuan induknya mendorong cabang atau perwakilan di tingkatan lainnya bersikap mandiri. Ia menyadari koneksi untuk adanya program memang ada di pusat, namun bukan berarti sekaligus mengeksekusinya dalam ikatan kerjasama.

Baca juga :
Mendes Yandri Dorong Kerjasama Pengentasan Daerah Tertinggal dengan China

"Membuka jalan oke, tapi tidak untuk langsung mengikat," tandanya.

Dalam kritik yang disampaikannya Andi menilai gagasan Gus Yahya rawan menjadikan kepengurusan PBNU/" style="text-decoration:none;color: #228239;font-weight: 700;">PBNU yang dipimpinnya sarat konflik. Alasannya, struktur kepengurusan dibangun di atas pondasi yang mengusung kepentingan memperoleh program kerja dari kerjasama dengan pihak-pihak di luar NU.

Baca juga :
Klok Sebut Persib Sempat Kewalahan saat Hadapi Bali United

"Banyak contoh bisa kita jadikan pelajaran. Organisasi yang perjalannya berburu kerjasama dengan pihak di luar organisasi, kepengurusannya akan diwarnai konflik," ingat Andi.

Masih terkait potensi konflik, Andi juga menyebut rawan muncul karena adanya perpecahan dan perasaan saling iri di antara kepengurusan cabang. Ini lantaran membagikan program secara adil untuk 500 lebih cabang se-Indonesia jelas  bukan pekerjaan mudah. Terlebih jika dikaitkan dengan gagasan lain Gus Yahya yang berencana banyak menampung Gus-gus dari pesantren di dalam kepengurusannya.

"Sementara Gus-gus pasti juga ingin membesarkan pesantrennya. Jadi dengan gagasan Gus Yahya itu kita justeru khawatir menjadikan hubungan PB dan PC renggang," pungkas Andi.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
PBNU Yahya Cholil Staquf Gus Yahya Muktamar NU PBNU