Pusat Perbelanjaan Harus Gunakan Paradigma Baru Agar Bertahan di Tengah Pandemi

Tim Cek Fakta | Kamis, 29/07/2021 22:15 WIB


Saat ini pengunjung sebenarnya sudah tidak memerlukan lagi pusat belanja karena sudah banyak alternatif tempat untuk memenuhi kebutuhan. Ilustrasi Mall

JAKARTA - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyampaikan perlu paradigma baru dalam mengelola pusat perbelanjaan agar bisa bertahan dan beradaptasi di tengah pandemi COVID-19.

"Kita tahu semua dengan pandemi ini adalah kita harus adaptasi dengan new normal. Untuk bisa ke new normal tentunya kita harus punya paradigma baru, khususnya bagi pengelola belanja terhadap visitor dan tenant," ujar Ketua Umum APPBI Alphonsus Widjaja dalam webinar, Kamis (29/7/2021).

Menurut dia, saat ini pengunjung sebenarnya sudah tidak memerlukan lagi pusat belanja karena sudah banyak alternatif tempat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, termasuk melalui belanja daring.

Namun, kata dia, mereka masih memerlukan tempat untuk memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial, yakni berinteraksi secara langsung.

Baca juga :
Menko Pangan Zulhas SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa

Oleh karena itu, Alphonsus mengatakan pengelola harus bisa mencari konsep agar pusat belanja tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi tempat pengunjung berinteraksi antar sesama.

Baca juga :
Lestari Moerdijat Sebut Guru Perempuan Tentukan Arah Pembangunan Bangsa

"Jadi pengelola harus cerdik, harus inovatif, harus kreatif memberikan sesuatu untuk customer melampiaskan kebutuhannya sebagai makhluk sosial," kata dia.

Sementara di sisi penyewa, Alphonsus menilai perlu ada satu konsep berjualan yang baru agar dagangan mereka tetap laku terjual. Dia mengatakan pusat perbelanjaan saat ini tidak boleh lagi hanya menjual tempat bisnis, tetapi harus menjadi bisnis itu sendiri.

Baca juga :
Kemenko PM Bangun Sistem Pelindungan PMI Berbasis Desa di Lampung Timur

"Jadi pusat perbelanjaan harus bisa memberikan satu konsep bukan hanya sekadar tempat berjualan, bukan lagi menjual place of business, tetapi place-nya harus dicoret, jadi harus menjadi business," kata Alphonsus seperti dilansir antaranews.

"Pusat perbelanjaan harus bisa memberikan, menyewakan satu tempat bukan hanya sekadar menyewakan tempat, tetapi lebih kepada bisnisnya, karena tenant-tenant ini mereka perlu sekali konsep baru, bukan hanya sekadar berjualan saja," sambung dia.

Alphonsus menyebut bahwa tugas pengelola pusat perbelanjaan saat ini adalah menyatukan dua kepentingan tersebut. Hal itulah yang dia sebut sebagai paradigma baru.

"Pengelola harus bisa mengombinasikan ini semua, harus bisa mengelola antar kebutuhan customer dengan tenant. Kalau sudah seperti itu tidak ada lagi perdebatan harga sewa segala macam tidak akan terjadi," ujar dia.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
pusat perbelanjaan pandemi paradigma baru