
Kantor Pusat BPS (Istimewa)
Katakini.com- Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi musim penghujan memicu kenaikan inflasi dibulan Desember.
Bisa dipastikan proses distribusi barang menjadi terhambat akibat cuaca hujan yang tinggi atau gangguan alam lainnya. Akibatnya harga komoditas pangan cenderung terdorong naik.
"Jadi memang perlu diwaspadi terkait dimulainya musim penghujan, kemudian adanya libur panjang beberapa waktu yang lalu," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto dalam keterangan pers secara virtual di Jakarta, Selasa (1/12/2020).
Menurut Setianto dengan adanya hambatan pada distribusi barang dari produsen ke konsumen, maka hal itu bisa saja menjadikan harga kebutuhan terutama pangan menjadi naik sifnifikan. Hal itu terbukti di bulan November kenaikan inflasi terbesar disumbang karena adanya kenaikan harga pangan dan minuman."Inflasi November 0,28% utamanya karena kenaikan harga makanan dan minuman dengan andil sebesar 0,86%. Ini contonhnya daging ayam dengan andil 0,08%," katanya.
"Dari 90 kota inflasi yang diobservasi oleh BPS, sebagian besar menunjukan adanya kenaikan harga atau inflasi. Yaitu ada 83 kota yang mengalami inflasi, sisanya 7 kota mengalami deflasi, yaitu Kendari, Ambon, Tarakan, Tanjung Pandan, Meulaboh, Pare-Pare dan Palopo. Ke 7 kota mengalami deflasi," katanya.
BPS mencatat inflasi tertinggi terjadi di kota Tual yaitu sebesar 1,15%. Utamanya inflasi dikota Tual merupakan andil dari kenaikan harga komoditas perikanan yaitu ikan tongkol, ikan layang, kemudian juga andil dari bahan bakar rumah tangga sebear 0,30%.
Jum'at, 10/04/2026
Jum'at, 17/04/2026