Penghentian Pelatihan Kartu Prakerja Sesuai Persepsi Masyarakat

Tim Cek Fakta | Senin, 06/07/2020 01:01 WIB


Responden yang tidak setuju dengan program kartu prakerja menyatakan lebih membutuhkan bantuan tunai atau modal kerja. Ilustrasi Kartu Prakerja

Katakini.com - Penghentian pelatihan program kartu prakerja dinilai sesuai dengan persepsi mayoritas masyarakat. Demikian hasil survei nasional Lembaga Kajian Strategis dan Pembangunan (LKSP) yang diadakan pada 20-27 Mei 2020.

"Hasil survei tersebut menyatakan mayoritas responden yaitu 61,94 persen, tidak setuju dengan program kartu prakerja. Sedangkan yang sepakat hanya 38,06 persen," kata Direktur Eksekutif LKSP Astriana B Sinaga melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (5/7/2020).

Astriana mengatakan responden yang tidak setuju dengan program kartu prakerja menyatakan lebih membutuhkan bantuan tunai atau modal kerja (44,33 persen) dan pelatihan serupa bisa didapat secara daring dan gratis (28,79 persen).

Selain itu, responden juga menyatakan tidak ada perusahaan yang siap menampung (17,60 persen), pelatihan tidak jelas arahnya (1,69 persen), dan kemungkinan celah korupsi baru (1,62 persen).

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

Sementara itu, responden yang mendukung kartu prakerja menyatakan program tersebut membantu para korban pemutusan hubungan kerja (46,4 persen), meningkatkan keterampilan (32,07 persen), dan melatih warga yang baru mencari kerja (20,33 persen).

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

"Pemerintah menyebut yang dihentikan adalah pelatihan di platform digital, sementara programnya akan jalan terus. Mayoritas responden menginginkan ada program pengganti untuk kartu prakerja," tuturnya.

Yang menjadi pertimbangan utama penghentian program tersebut adalah rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lebih bersifat pencegahan korupsi.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Padahal, berdasarkan survei LKSP, alasan responden yang meminta program tersebut dihentikan karena kemungkinan celah korupsi jauh lebih kecil daripada alasan-alasan lain.

Astriana mengatakan sasaran dari program kartu prakerja harus jelas. Bila untuk memberikan insentif, bantuan sosial lebih baik. Sedangkan bila tujuannya untuk meningkatkan kompetensi peserta, terdapat berbagai pelatihan sejenis yang bisa didapat secara gratis.

"Jangan sampai program pelatihan kartu prakerja dibuat untuk formalitas agar mendapatkan insentif bantuan sehingga materi pelatihan terkesan mengada-ada. Ada dana besar digunakan untuk program ini," katanya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
kartu pra kerja pelatihan survei